Friday, 13 October 2017

SIFAT SIFAT YANG DIMILIKI AGAMA ISLAM

Agama Islam itu mempunyai delapan macam sifat yang tidak dimiliki oleh agama lainnya, sehingga karenanya agama Islam ADALAH PATUT DIKATAKAN merupakan satu-satunya agama yang sempurna di dunia ini.
Delapan macam sifat agama Islam tersebut adalah:
1. Agama Islam itu adalah agama “fithrah”.
2. Agama Islam itu adalah agama yang: mudah, rational dan praktis.
3. Agama Islam itu adalah agama yang mempersatukan antara kehidupan jasmani dan kehidupan rohani, dan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.
4. Agama Islam itu adalah agama yang menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi (individual) dan kehidupan bermasyarakat.
5. Agama Islam itu adalah merupakan jalan hidup yang sempurna.
6. Agama Islam itu adalah agama yang universal dan manusiawi.
7. Agama Islam itu adalah agama yang stabil dan sekaligus berkembang.
8. Agama Islam itu adalah agama yang tidak mengenal perubahan.
Ad.1. Agama Islam adalah “agama fithrah”.
Fithrah itu ada dua macam, yaitu fithrah mukhallaqah dan fithrah munazzalah.
Yang dimaksud dengan fithrah mukhallaqah adalah kejadian manusia yang terdiri dari tiga unsur jiwa, yaitu:
a. Nafsu, yang gejalanya nampak pada tingkah laku lahiriah. Oleh karena manusia itu mempunyai nafsu, maka manusia disebut juga “homo animale”.
b. Akal fikiran atau kalbu atau ratio yang membuat manusia dapat berfikir dan memiliki keyakinan. Karena manusia mempuyai ratio, maka manusia juga disebut “homo rationale”.
c. Hati nurani atau sarirah atau ‘ainul basirah yang membuat manusia dapat memiliki budi pekerti. Karena manusia mempunyai budi pekerti, maka manusia disebut juga “homo somatica”.
Adapun yang dimaksud dengan fithrah munazzalah adalah ajaran agama Islam yang terdiri dari tiga macam, yaitu:
a. Ajaran tentang “iman” yang dipergunakan untuk membimbing manusia selaku “homo rationale”.
b. Ajaran tentang “islam” ysng dipergunakan untuk membimbing manusia selaku “homo animale”.
c. Ajaran tentang “ihsan” yang dipergunakan untuk membimbing manusia selaku “homo somatica”.
Dalam Al Qur’an surat Ar Rum ayat 30 Allah swt. berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ .
“(Setelah jelas kesesatan syirik itu) maka hadapkanlah dirimu (engkau dan pengikut-pengikutmu, wahai Muhammad) ke arah agama yang jauh dari kesesatan; (turutlah terus) agama Allah, yaitu agama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semula jadinya) untuk menerimanya; tidaklah patut ada sesuatu perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah agama yang benar lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Pengamalan dari ketiga macam ajaran agama Islam tersebut di atas, menurut pengarang dari kitab “Iqadhul Himam” syarah dari kitab “Al Hikam” adalah sebagai berikut:
وَعَمَلُ الإِسْلاَمِ هِيَ الشَّرِيْعَةُ لِتَعْبُدَ اللهَ لإِصْلاَحِ ظَوَاهِرِكَ بِالتَّوْبَةِ وَالتَّقْوَى وَالإِسْتِقَامَةِ . وَعَمَلُ الإِيْمَانِ هِيَ الطَّرِيْقَةُ لِنَقْصُدَ اللهَ لإِصْلاَحِ ضَمَائِرِكَ بِالإِخْلاَصِ وَالصِّدْقِ وَالطُّمَأْنِيْنَةِ . وَعَمَلُ الإِحْسَانِ هِيَ الْحَقِيْقَةُ لِتَشْهَدَ اللهَ لإِصْلاَحِ سَرَائِرِكَ بِالْمُرَاقَبَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمَعْرِفَةِ.
Artinya: “Pengamalan “islam” adalah syari’at (dalam arti sempit), agar engkau dapat menyembah Allah, untuk memperbaiki tingkah laku lahirmu, dengan bertaubat, bertaqwa dan beristiqamah (melakukan ibadah secara terus-menerus = continue ). Pengamalan “iman” adalah thariqat (bukan gerakan thariqat), agar engkau dapat menuju kepada keridlaan Allah, untuk memperbaiki tingkah laku hatimu, dengan berbuat ikhlas, jujur dan mantap. Pengamalan “ihsan” adalah hakekat, agar engkau dapat menyaksikan keagungan Allah, untuk memperbaiki hati nuranimu, dengan muraqabah (selalu merasa diawasi Allah), musyahadah (mengamati kekuasaan Allah yang berlaku pada setiap makhluk-Nya) dan ma’rifat (menghayati keberadaan Allah melalui ciptaan-Nya).
Ketiga macam ajaran agama islam tersebut di atas juga disebut “Risalah Islamiyah”. Adapun sistem yang dijalankan oleh Nabi Besar Muhammad saw. Dalam mengemban “Risalah Islamiyah” tersebut di atas adalah sebagai berikut :
Pertama : Selama kurang lebih 11 (sebelas) tahun lamanya, Nabi Besar Muhammad saw, menanamkan ke-tauhid-an (ke-esa-an) Tuhan (Allah) pada bangsa arab yang berfaham polytheisme (mempercayai Tuhan sebanyak 360) melalui pendekatan rational. Kemudian menggembleng ke-tauhid-an mereka, sehingga dapat menjadi bangsa yang memiliki keyakinan “tauhid mutlak” atau “monotheisme absolut” yang sangat kuat.
Kedua : Nabi Besar Muhammad saw. mengajak para pengikutnya yang telah memiliki keyakinan tauhid mutlak yang sangat kuat untuk beribadah (menyembah) kepada Allah saja secara tekun dan istiqomah (terus-menerus), guna mendekatkan diri kepadaNya.
Ketiga : Nabi Besar Muhammad saw. melatih para pengikutnya yang telah memiliki keyakinan tauhid mutlak yang sangat kuat dan telah melakukan ibadah dengan istiqamah untuk mengamalkan budi pekerti yang mulia, agar dapat menjadi manusia yang sempurna (insan kamil).
Dengan sistem tersebut di atas. Nabi Besar Muhammad saw, dalam waktu yang kurang dari seperempat abad (=23 tahun), dengan biaya yang kurang dari 1% dari biaya revolusi Perancis, dan dengan korban kurang dari 1000 (seribu) orang, telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula merupakan bangsa yang paling bejat dalam bidang keyakinan, tertib hukum dan moral (akhlak), menjadi bangsa yang memiliki keyakinan tauhid mutlak yang sangat kuat, sangat taat pada hukum-hukum Islam dan memiliki budi pekerti yang luhur, yang kesemuanya itu merupakan perubahan sosial yang paling besar dalam sejarah kehidupan umat manusia yang tidak ada tolok bandingannya. Inilah sistem yang paling tepat untuk dicontoh dalam membangun kepribadian seseorang maupun kepribadian sesuatu bangsa.
Dalam surat Al Ahzab (S:33) ayat 21 Allah swt telah berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suatu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Ad.2 Agama Islam adalah agama yang mudah, rational, dan praktis.
2.1 Yang dimaksud dengan mudah adalah bahwa tidak ada satupun dari bentuk-bentuk peribadatan dalam Islam yang sulit dan jelimet yang hanya dapat dimengerti dan dapat dikerjakan oleh tokoh-tokoh agama atau para alim ulama’ saja. Setiap bentuk peribadatan dalam agama Islam dapat dimengerti dan dapat dikerjakan oleh setiap orang muslim meskipun orang yang paling awam. Sampai-sampai masalah shalat yang lima kali sehari semalam, yang diantara rukun-rukunnya (pekerjaan-pekerjaan yang wajib dikerjakan) adalah bacaan “fathihah” dan “tasyahhud/tahiyyat”, bagi orang yang sama sekali belum dapat membacanya (belum hafal atau belum mengenal huruf-huruf Al-qur’an, kedua bacaan tersebut boleh diganti dengan bacaan : “dzikir” seperti bacaan لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ = Laa ilaaha illallah. Demikian pula bacaan-bacaan yang dianjurkan selama melakukan thawaf dan sa’i dalam ibadah haji, dapat diganti dengan bacaan shalawat Nabi, dalam hal ini Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda :
1. إِنَّمَا بُعِثْتُ بِالْحَنِيْفِيَّةِ السَّمْحَةِ = Sesungguhnya saya diutus dengan agama yang lapang.
2. الدِّيْن يُسْرٌ = Agama Islam itu mudah.
3. يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوا = Mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit.
2.2 Yang dimaksud dengan rational, ialah bahwa rukun-rukun Iman yang enam yaitu :
– Beriman kepada Allah.
– Beriman kepada para malaikat Allah.
– Beriman kepada kitab-kitab Allah.
– Beriman kepada para utusan Allah.
– Beriman kepada hari kiamat.
– Beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruk Allah.
Diantaranya, ada tiga pokok aqidah islamiyah yang harus berdasarkan akal fikiran yang sehat, yaitu :
2.2.1 Masalah ke-Esa-an Allah swt.
Dalam agama Islam seseorang tidak dibenarkan untuk meyakini wujud Tuhan Allah yang Maha Esa hanya berdasarkan keterangan orang lain. Akan tetapi keyakinan yang dimilikinya itu harus berdasarkan akal fikirannya yang sehat atau berdasarkan dalil akal, meskipun secara global (garis besar), misalnya: Andaikata di langit dan bumi ini ada dua Tuhan, sedangkan masing-masing dari Tuhan tersebut memiliki kekuasaan yang penuh, niscaya akan terjadilah pertempuran dan saling menghancurkan diantara kedua Tuhan tersebut untuk dapat menjadi penguasa tunggal di langit dan di bumi. Dan dengan demikian, maka seluruh benda langit dan bumi ini akan menjadi hancur lebur. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa benda-benda langit dan bumi ini masih dalam keadaan utuh. Jadi tidak mungkin di langit dan di bumi ini ada dua Tuhan yang masing-masing memiliki kekuasaan yang penuh. Andaikata di alam semesta ini ada dua Tuhan dan keduanya bersepakat untuk mengatur alam semesta, maka pastilah kesepakatan tersebut diambil karena kedua Tuhan itu lemah, atau salah satunya lemah. Jika demikian maka yang bersifat lemah itu adalah bukan Tuhan, karena tidak pantas Tuhan memiliki sifat lemah, sebab dia harus memelihara dan mengatur alam semesta ini, dan tidak pantas pula untuk dipuja-puja, apalagi untuk disembah.
Dan jika di alam semesta ini ada dua Tuhan yang salah satunya berupa manusia yang dianggap sebagai anak Tuhan, seperti Nabi ‘Uzair as. yang dianggap sebagai anak Tuhan oleh orang-orang yahudi dan seperti nabi Isa as. yang dianggap sebagai anak Tuhan yang tunggal oleh orang-orang nasrani, maka hal itu sama sekali tidak dapat masuk akal fikiran yang sehat. Sebab jika sekiranya Tuhan tersebut dapat mempunyai anak yang berwujud manusia, sedangkan manusia itu adalah ciptaannya, niscaya bisa pula terjadi ada penjahit yang mempunyai anak berupa celana atau tukang kayu beranak kursi. Lebih-lebih lagi jika ada orang yang beranggapan bahwa ada manusia yang menjadi isteri Tuhan, niscaya akan ada sebuah patung yang menjadi istri pemahatnya.
Dalam Al Qur’an surat al anbiya’ (S.21) ayat 22 Allah swt. berfirman :
لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا، فَسُبْحَانَ اللهِ رَبُّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
Artinya : “Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arasy dari pada apa yang mereka sifatkan”.
Seorang ahli filsafat bangsa Yunani yang bernama Socrates berpendapat bahwa melalui hukum sebab dan akibat (hukum causalita) , maka alam semesta ini berasal dari penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh penyebab yang lain. Penyebab pertama ini adalah Maha Esa dan itulah Tuhan. Jadi Tuhan menurut Socrates adalah penyebab pertama (The Prime Cause). Menurut Aristoteles, Tuhan itu bukanlah the prime cause, akan tetapi the prime mover (penggerak pertama) yang Maha Esa, yang Maha Sedia tanpa permulaan dan yang Maha Kekal tanpa kesudahan. Sedangkan menurut ahli filsafat bangsa Belanda yang bernama Berkely, Tuhan itu adalah the eternal reality (kenyataan dari hakekat wujud yang abadi) dan Dia adalah Maha Esa.
Karena keimanan kepada Allah swt. yang harus rational adalah yang paling pokok dalam agama Islam. Maka Nabi Besar Muhammad saw bersabda:
الدِّيْنُ هُوَ الْعَقْلُ لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ
Artinya : “Agama itu akal dan sama sekali agama itu tidak dibenarkan bagi orang yang sama sekali tidak ada akal fikiran baginya”.
2.2.2 Ke-rasul-an Nabi Besar Muhammad saw.
Masalah ke-rasul-an Nabi Besar Muhammad saw, adalah berdasarkan akal fikiran yang sehat. Sebab sampai sekarang belum ada seorang ahlipun yang berani menyatakan bahwa kitab suci Al Qur’an yang menjadi mu’jizat utama dari Nabi Besar Muhammad saw itu adalah buatan manusia. Sejak Rasulullah Muhammad saw menyatakan bahwa bukti dari kerasulan beliau adalah kitab suci Al Qur’an, kemudian kaum kuffar mengatakan bahwa mereka dapat membuat untaian kalimat yang seperti Al Qur’an, maka dengan spontan Allah swt memberikan tantangan kepada mereka, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (S.2) ayat 23-24 sebagai berikut:
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَائْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ، وَادْعُوْا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوْا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةَ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ
Artinya : “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan kamu tidak mungkin dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.
Dan kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa sejak pertama kali Al Qur’an diturunkan sampai sekarang, mereka yang ingkar terhadap kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah swt yang menjadi bukti dari kebenaran ke-rasul-an Nabi Muhammad saw. Tidak seorangpun pernah mampu membuat tandingan Al Qur’an, meskipun mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk hal tersebut, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum orientalis Barat.
2.2.3 Masalah konsep kehidupan sesudah mati.
Semua manusia yang hidup di dunia ini, tidak seorangpun yang mampu menjawab tujuh macam pertanyaan meskipun dia adalah orang yang paling genius atau brilliant atau paling cerdas otaknya.
Ketujuh macam pertanyaan itu adalah :
a. Dari mana sebelum manusia ini hidup di dunia ?
b. Mengapa manusia harus hidup di dunia ?
c. Siapa gerangan yang menghendaki kehidupan manusia di dunia ini ?
d. Untuk apa manusia harus hidup di dunia ?
e. Mengapa setelah manusia terlanjur senang hidup di dunia dia harus mati, padahal tidak seorangpun yang senang mati?
f. Siapa gerangan yang menghendaki kematian manusia ?
g. Kemana gerangan nyawa manusia setelah mati ?
Ketidak mampuan akal manusia menjawab tujuh macam pertanyaan tersebut adalah merupakan salah satu bukti yang nyata, bahwa manusia itu betapapun cerdas/genius/brilliant akal fikirannya, masih memiliki tingkat kelemahan. Disamping kelemahan untuk menjawab tujuh pertanyaan tersebut, akal manusia juga mempunyai kelemahan-kelemahan yang lain, yaitu ketidak mampuan manusia untuk mengetahui hakekekat kebenaran yang dapat dibuktikan dengan banyaknya teori kebenaran yang telah dikemukakan oleh para ahli filsafat, dan ketidak mampuan manusia untuk mengetahui hakekat dari kebahagiaan hidup yang dapat dibuktikan oleh kehidupan yang merana dari orang-orang yang tergolong pandai.
Kelemahan akal manusia tersebut adalah bukti yang nyata bahwa manusia hidup di dunia ini mutlak masih memerlukan petunjuk. Dan petunjuk yang dapat dipertanggung jawabkan adalah petunjuk yang berasal dari Sang Pencipta akal manusia itu sendiri, yaitu Tuhan yang dalam agama Islam disebut Allah. Sedangkan petunjuk yang diberikan oleh Allah itu disebut “Ad Din” (agama). Dan petunjuk Allah swt yang diberikan kepada Nabi Besar Muhammad saw melalui wahyu kesemuanya telah terangkum dalam sebuah kitab suci Al Qur’an. Dan dalam Al Qur’an inilah Allah swt menyatakan bahwa semua manusia yang sudah mati akan dibangkitkan lagi pada hari kiamat. Dengan demikian maka terbuktilah sudah bahwa konsep kehidupan sesudah mati itu adalah rational.
2.3 Yang dimaksud dengan praktis, ialah bahwa seluruh isi ajaran Al Qur’an dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap orang Islam yang telah memahami makna yang terkandung di dalamnya, karena Al Qur’an itu bukan teori yang sulit untuk dipraktekkan, melainkan tuntunan dari Allah swt. yang dipergunakan untuk membimbing kehidupan manusia hidup di dunia ini, sehingga mudah untuk dipraktekkan.
Ad.3 Agama Islam itu mempersatukan antara kehidupan jasmani dan kehidupan rohani dan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi.
Agama Islam menuntut para pemeluknya untuk memperhatikan kepentingan jasmaninya dan sekaligus memperhatikan kepentingan rohaniahnya dan juga menuntut setiap muslim berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan juga kebahagiaan hidup di akherat.
Oleh karena itu setiap muslim diperintahkan untuk membaca do’a seperti yang diajarkan di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (S.2) ayat 201 yang berbunyi:
….رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةًًً وَفِي الإَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya : …Ya Tuhan kami , berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”
Setiap muslim dilarang keras untuk meninggalkan urusan duniawinya karena menyibukkan diri dengan urusan akhirat, demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini Nabi Besar Muhammad saw telah bersabda :
لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لإَخِرَتِهِ وَلاَ آخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتَّى يُصِيْبَ جَمِيْعًا مِنْهُمَا
Artinya : Bukanlah yang paling baik dari kamu sekalian orang yang meninggalkan dunianya untuk akhiratnya, dan bukan pula orang yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya; sehingga dia memperoleh keseluruhan dari keduanya (dunia akhirat).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim Nabi besar saw bersabda :
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلِّ خَيْرٍ،إِحْرَاصٍ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلاَ تَعْجِزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ، وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنْ “لَوْ” تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ .
Artinya : Orang mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Tamaklah engkau pada apa saja yang memberi manfa’at engkau. Mintalah tolong kepada Allah dan jangan pesimis (merasa lemah). Dan jika ada sesuatu yang menimpa engkau janganlah engka berkata: “ Andaikan aku melakkan begini, niscaya akan terjadi begini; akan tetapi katakanlah “ Allah telah menentukan (mentakdirkan) dan apa yang Dia kehendaki Dia kerjakan; karena kata “andaikata” itu membuka peluang bagi pekerjaan syaithan”
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menetapkan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih utama daripada orang mukmin yang lemah dan lebih dicintai oleh Allah swt dan bahwa pada masing-masing keduanya terdapat sebagian dari kebaikan, yaitu karena beriman. Kemudian Rasulullah saw secara global menerangkan bahwa ketamakan itu terletak pada empat faktor, yaitu :
a. tamak terhadap setiap sesuatu yang bermanfa’at.
b. Memohon pertolongan pada kekuatan Allah swt yang tidak dapat dilemahkan oleh sesuatu pun.
c. Terus-menerus menghadapi pekerjaan dengan tekun, pantang menyerah dan tanpa merasa lemah (pesimis).
d. Sabar pada waktu tertimpa musibah tanpa membiarkan dirinya dipermainkan oleh angan–angan dan tidak tunduk pada godaan syaithan.
Ad. a. Faktor yang pertama menuntut setiap mukmin untuk sadar terhadap setiap kesempatan yang dapat dipergunakan dan diambil faedahnya. Setiap sesuatu yang memberi manfaat orang mukmin dalam kehidupan di dunia ini dan kehidupan di akhirat, wajib terhadap setiap mukmin untuk tamak terhadapnya dan bekerja keras untuk mendapatkannya.
Terhadap harta, wajib bagi setiap mukmin untuk mengusahakannya dari jalan yang halal.
Terhadap pangkat, wajib bagi setiap mukmin untuk mengerahkan kemampuannya guna mencapainya dengan cara yang wajar dan baik.
Terhadap ilmu-ilmu pengetahuan yang bermacam-macam yang dapat dipergunakan untuk memajukan alam dan mempersiapkan sarana-sarana kehidupan yang mulia bagi manusia, seperti ilmu kedokteran, teknik, dan pendidikan misalnya, maka wajib bagi semua orang mukmin untuk tidak menyimpan kemampuannya dalam mempelajari dan mengabdinya.
Terhadap akhlak-akhlak yang mulia yang dapat diperoleh dengan ujian, mengekang nafsu dan bersabar, maka wajib bagi orang-orang mukmin untuk memperoleh bagian yang terbesar.
Terhadap agama dan ilmu agama, maka jelas setiap mukmin wajib menyangatkan ketamakannya untuk menjadi bekal kehidupannya di akhirat, dan harus bekerja dengan sekuat tenaga untuk mengambil faedah dari ilmu-ilmu agama tersebut bagi kehidupannya di dunia, karena ilmu-ilmu agama tersebut dapat mendidik jiwa, membangkitkan semangat dan mempertajam hati.
Ad.b. Faktor yang kedua, yaitu memohon pertolongan Allah, adalah menyadarkan setiap mukmin terhadap pekerjaan yang tidak menyibukkan dirinya dari mengingat Allah; bahkan pekerjaan itu lebih pantas untuk menyibukkan dirinya mengingat Tuhannya. Sebab setiap kali seseorang mu’min menekuni sesuatu pekerjaan, maka akan tersingkap baginya bahwa kemampuannya sebagai manusia adalah terbatas dan bahwa kekuatannya jauh berkurang untuk mencapai cita-citanya. Jadi tidak boleh tidak dia harus mendapatkan pertolongan dan bantuan Allah swt., yang dapat menuntunnya, menunjukkan jalannya dan memberinya kesabaran dan menekuni pekerjaannya, agar dapat sampai kepada apa yang diinginkan keberhasilan dari cita-citanya berkat pekerjaan dan jerih payahnya; sehingga betapapun banyak rintangan yang dihadapinya, tidak akan dapat menghalanginya.
Oleh karena setiap mukmin selalu memerlukan pertolongan Allah inilah, maka Allah swt memerintahkan kepada kita sekalian untk membaca pada setiap raka’at dari setiap shalat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ Hanya kepadamu kami menyembah dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan . dan Allah memerintahkan orang-orang mu’min yang sedang berperang melawan musuh untuk mengingat Tuhan mereka , bahkan agar lebih banyak mengingatNya.
Dalam surat Al Anfal (S.8) ayat 45, Allah swt telah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوا إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَأَثْبَتُوْا, وَاذْكُرُ اللهَ كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung”
Ad.c. Untuk faktor yang ketiga ini, kami ketengahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas Bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. dalam do’a beliau selalu mengcapkan :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
“Ya Allah sesungguhnya hamba memohon perlindungan kepadamu dari sifat pesimis, malas, licik dan kikir”.
Dari do’a Rasulullah saw tersebut dapat diambil pengertian bahwa agama Islam itu membenci sifat malas, memerangi sifat berpura-pura tawakkal (tawakkal = berserah diri kepada Allah) dan tidak rela apabila orang m’min itu menjadi lemah sehingga dihina orang lain atau menjadi pemalas sehingga dia minta-minta kepada orang lain atau menjadi penganggur sehingga menjadi orang yang tidak berguna, padahal orang m’min itu seharusnya melebihi orang lain, menjadi orang yang kaya dan orang yang mulia .
Ad.d . Faktor yang keempat adalah menutup pintu lamunan dan angan-angan yang batal, karena orang mu’min itu wajib menyiapkan dirinya untuk kehidupan di hari esok dan bukan untuk hari kemarin. Dan hendaklah orang m’min itu mengerjakan pekerjaan yang sedang dihadapi dan jangan menjadi orang yang bermimpi dan tertipu oleh angan-angan dan lamunan. Jika setiap mansia dalam kehidupan di dunai ini kadang-kadang dihadapkan kepada kegagalan dari usahanya dan pada suatu ketika menjadi sasaran dari kejadian-kejadian, maka hendaklah dia menghadapi apa yang merintangi jalannya dengan jiwa mu’min yang sejati, yaitu menyadari bahwa rintangan tersebut adalah sudah menjadi ketentuan dan kehendak Allah yang tidak dapat dielakkan kejadiannya, sehingga dia harus mengulangi bekerja dan berusaha dengan keyakinan akan sampai pada sasaran tujuannya.
Sesungguhnya setiap mukmin itu wajib memiliki keyakinan bahwa ketentuan Allah swt. itu tidak mungkin berubah seandainya mengerjakan selain apa yang telah dikerjakan. Misalnya : Penyakit yang menjadi sebab kematiannya adalah tidak mungkin dapat sembuh andaikata ada dokter lain yang mengobati. Putusan pengadilan yang merugikan dirinya adalah tidak mungkin membawa keberuntungannya andaikata ada seorang pembela yang masyhur yang membela. Jika demikian, maka tidaklah bijaksana, bahkan tidak benar apabila ia mengatakan : “ Andaikata perkara itu demikian, niscaya akan terjadi demikian. Yang bijaksana adalah jika dia meninggalkan apa yang sudah terjadi agar perhatiannya sepenuhnya dapat ditujukan kepada apa yang akan terjadi, seluruh kemampuannya dikerahkan untuk bekerja, sehingga apa yang telah lewat tidak menjerumuskannya dalam jurang penyesalan dan tidak mengajaknya bercumbu rayu dengan syaithan dalam lamunan yang tidak membuahkan kecuai penyesalan yang sia-sia dan kesibukan hati dengan hal-hal yang tidak berfaedah serta menyia-nyiakan waktu dalam hal-hal yang tidak membuatnya kaya.

Thursday, 12 October 2017

AHLAK DALAM ISLAM


PENGERTIAN AKHLAK
 
Secara sederhana, paradigma adalah cara memandang. Paradigma mirip jenis kaca mata yang kita gunakan. Paradigma adalah kaca mata batin kita – kacamata persepsi kita. Paradigma menentukan apa yang kita yakini dan pada akhirnya menentukan prilaku kita. Secara ilmiyah, paradigma adalah “a constellation of beliefs, values, and technicques shared by the members of a given scientific community”. Menurut Thomas kuhn, paradigma tidak saja bersifat kognitif, tetapi juga normative. Sementara menurut Jalaluddin rahmat, paradigma diartikan sebagai kumpulan keyakinan, nilai, dan aturan perilaku yang dianut oleh kelompok tertentu dan untuk konteks Islam , kelompok tertentu dalam Islam.
Sementara kata akhlak (bahasa Arab), secara etimologis, adalah bentuk jamak dari kata khuluq. Khuluq di dalam Kamus al-Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, dan tabiat. Akhlaq berakar dari kata kha-la-qa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq yang berarti yang diciptakan dan khalq yang berarti penciptaan.
Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlaq tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan) dengan prilaku makhluq (manusia). Atau dengan kata lain, tata prilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkunganya baru mengandung nilai akhlaq yang hakiki manakala tindakan atau prilaku tersebut didasarkan kepada kehendak Khaliq (Tuhan). Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlaq bukan saja merupakan tata aturan atau morma prilaku yang mengatur hubungan antara sesama manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.
Sedangkan secara istilah, banyak ulama mendefinisikan pengertian akhlak diantaranya adalah sebagai berikut:

Imam al-Ghazali :
الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها تصدر الافعال بسهولة ويسر من غير حاجة الي فكر و رؤية.
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuaatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
      Ibnu maskawih :

“ Akhlak adalah gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tidak membutuhkan pikiran”.

         Ahmad amin :

“Akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
Disamping akhlak, moral dan etika juga sama-sama menentukan nilai baik dan buruk seseorang. Bedanya akhlak mempunyai standar ajaranyang bersumber kepada al-Qur’an dan sunnah Rasul, etika berstandarkan akal pikiran sedangkan moral berstandarkan adat atau kebiasaan yang terdapat didalam masyarakat.”

Ibrahim Anis:
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”.

Abdul karim Zaidan:
“Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatanya baik atau buruk untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkanya”.
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perbuatan manusia baru disebut akhlak kalau terpenuhi dua syarat, yaitu:
Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau perbuatan itu hanya dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, pada suatu ketika, orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang atau bantuan kepada orang lain, karena alasan tertentu. Dengan tindakan ini ia tidak dapat disebutorang yang murah hati atau disebut sebagai orang berakhlak dermawan. Karena hal itu tidak melekat pada jiwanya. Lebih jauh tentang keterulangan perbuatan manusia, yang selanjutnya disebut akhlak, Ahmad Amin dalam bukunya al-Akhlak menyatakan bahwa pada dasarnya akhlak itu adalah membiasakan kehendak (‘adah al-iradah). Kata membiasakan disini dipahami dalam pengertian melakukan sesuatu secara berulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan (‘adah). Adapun yang dimaksud dengan kehendak (iradah) adalah menangnya keinginan untuk melakukan sesuatu setelah mengalami kebimbangan untuk menentukan pilihan terbaik di antara beberapa alternatif. Apabila iradah sering terjadi pada seseorang, maka akan terbentuk pola yang baku, sehingga selanjutnya tidak perlu membuat pertimbangan-pertimbangan lagi, melainkan secara langsung melakukan tindakan yang telah dilaksanakan tersebut.
Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikir atau diteliti terlebih dahulu sehingga benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau setelah difikir dan dipertimbangkan terlebih dahulu secara matang, tidak disebut akhlak. Ada dua hal yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur kebiasaan: (1) ada kecenderungan hati padanya, (2) ada pengulangan yang cukup banyak, sehingga mudah mengerjakanya tanpa memerlukan fikiran lagi.
Selanjutnya, kesan yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa istilah akhlak itu bersifat netral, belum menunjukan kepada baik dan buruk. Namun demikian, apabila istilah akhlak itu disebut sendirian, tidak dirangkai dengan sifat tertentu, maka yang dimaksud adalah akhlak yang mulia. Misalnya bila seseorang berlaku tidak sopan kita mengatakan kepadanya: “Kamu tidak berakhlak”. Maksudnya adalah “kamu tidak memiliki akhlak mulia”, dalam hal ini sopan santun.
Pembagian Akhlak

Segala sesuatu yang ada di dunia ini jika kita perhatikan, maka akan jelas bahwa semuanya ini berpasang-pasangan.
Ada siang dan malam, ada hujan dan panas, ada laki-laki dan perempuan, ada ahklak mahmudah dan mazmumah  dan sebagainya.

  1. akhlak mahmudah
akhlak mahmudah artinya: akhlak terpuji, contoh akhlak mahmudah adalah:
  1. Sabar, adalah mampu menahan diri atau mampu mengendalikan amarah.
  2. Ikhlas, adalah mengejakan sesuatu amal hanya semata-mata karena Allah, yakni harus mengharap ridhoNya.
  3. Jujur, adalah mengatakan sesuatu itu dengan apa adanya dan harus dengan hati yang lurus.
  4. Pemaaf, adalah orang yang memberikan maaf kepada peminta maaf yang menyadari kesalahannya.
  5. Pemurah, adalah sikap seseorang yang ringan untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain,
  6. Menepati janji, adalah orang yang datang ketempat yang sudah disepakati sebelumnya.

  1. akhlak mazmumah
ahklak mazmumah adalah akhlak yang buruk atau tercela, contoh akhlak mazmumah adalah:
  1. Ujub dan Takabur
Ujub adalah mengagumi kemampuan dirinya sendiri. Sedangkan takabur, adalah membanggakan diri karena dirinya merasa lebih dari pada yang lain.
  1. Ria dan Sum’ah
Ria adalah beramal baik dan bermaksud ingin memperoleh pujian orang lain. Sedangkan sum’ah, adalah berbuat atau berkata agar didengar orang lain sehingga namanya jadi terkenal.

  1. Malas dan Tamak
Malas adalah enggan atau tidak mau melakukan sesuatu, dan Tamak( serakah) adalah terlalu bernafsu untuk memiliki sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri.

  1. Dendam dan Iri hati
Dendam adalah keinginan untuk membalas kejahatan yang dilakukan orang lain atas dirinya. Dan Iri hati adalah perasaan tidak senang apabila melihat orang lain mendapat kesenangan.

  1. Fitnah dan Penipuan
Fitnah adalah berita bohong atau desas- desus tentang seseorang dengan maksud yang tidak baik. Sedangkan penipuan adalah perkataan atau perbuatan tidak jujur dengan maksud menyesatkan seseorang dan mencari untung dari perbuatannya tersebut.


  1. Bohong dan Khianat
Bohong adalah dusta, berarti tidak sesuaidengan keadaan yang sebenarnya., sedangkan Khianat adalah perbuatan tidak setia terhadap pihak lain.

  1. Bakhil dan Takut miskin
Bakhil adalah perasaan tidak rela memberikan sesuatu kepada orang lain atau untuk kepentingan agama. Dan Takut miskin adalah rasa cemas akan menderita hidupnya karena kekurangan harta.


KEDUDUKAN DAN KEISTIMEWAAN AKHLAK DALAM ISLAM
1.Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai misi pokok risalah Islam.
2.Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok Islam
3.akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan sesorang nanti pada hari kiamat
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ رواه الترمذي وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
4.Rasulullah menjadikan baik buruknya akhlak seseorangsebagai ukuran kualitas imanya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا رواه الترمذي هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
5.Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada allah SWT.Lihat nash tentang shalat puasa dan haji
6.Nabi Muhammad SAW selalu berdo’aagar Allah SWT membaikan akhlak beliau.
7.di dalam al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak.

CIRI-CIRI AKHLAK DALAM ISLAM

Yang dimaksud karakteristik akhlak islam adalah ciri-ciri khusus yang ada dalam akhlak islam. ciri-ciri khusus ini yang membedakan dengan akhlak wadli’iyah atau akhlak yang diciptakan oleh manusia, atau hasil consensus manusia dalam menentukan baik dan buruknya perbuatan, yang disebut moral.

Akhlak nabi Muhammad saw adalah akhlak islam, karena ia bersumber pada al-Qur’an yang datang dari Allah swt. Al-qur’an sendiri diyakini memiliki kebenaran mutlak, tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, berlaku sepanjang masa dan untuk semua manusia. Oleh karena itu akhlak islam memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
Kebaikanya bersifat mutlak (al-khairiyah al-muthlaqah) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam merupakan kebaikan murni, baik untuk individu maupun untuk masyarakat luas, kapanpun dan dimanapun.

Kebaikanya bersifat menyeluruh (al-shalahiyah al-‘ammah). Yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan di semua tempat.
Tetap, langeng, dan mantap, yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya bersifat tetap, tidak berubah oleh perubahan waktu, tempat dan perubahan kehidupan manusia.
Kewajiban yang harus dipatuhi (al-ilzamul mustajab), yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan hukum yang harus dilaksanakan, sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang-orang yang tidak melaksanakan.
Pengawasan yang menyeluruh (ar-raqabah al-muhithah), yaitu allah yang memiliki sifat maha mengetahui seluruh isi alam semesta, dan apa yang dilahirkan dan disembunyikan oleh manusia, maka perbuatan manusia selalu diawasi dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan. Tidak ada sekecil dzarrah-pun yang lepas dari pengawasan Allah SWT.
Berpijak dari lima ciri-ciri akhlak Islam di atas, Ahmad Azhar basyir merinci kembali melalui lima dengan istilah: (1) Akhlak rabbani; (2) Akhlak manusiawi; (3) Akhlak universal; (4) Akhlak keseimbangan; dan (5) Akhlak realistic.
1.Akhlak Rabbani (Al-Akhlaq Al-Rabbaniyyah)
Akhlak rabbani (al-Akhlaq al-Rabbaniyyah), yaitu akhlak dalam Islam itu bersumber kepada wahyu Allah yang termaktub di dalam al-qur’an dan as-sunnah al-nabawuyah. Dalam al-qur’an dijelaskan bahwa tujuan para rasul allah ialah mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan (rabaniyah), yaitu masyarakat yang para anggotanya dijiwa oleh semangat mencapai ridha allah, melalui perbuatan baik bagi sesamanya dan kepada seluruh makhluk.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS Ali Imron (3): 79)
Makna “rabbaniyah” itu sendiri sama dengan “berkeimanan” dan “berketakwaan” atau lebih sederhana dapat dikatakan “beriman dan bertakwa”. Oleh karena iman dan takwa adalah fondasi dari ajaran Islam bagi kehidupan manusia, maka akhlak rabbaniyah itu adalah akhlak yang bernilai bagi perwujudan dari iman maupuntakwa. Perwujudan ini dalam bentuk sikap,pandangan hidup dan perbuatan nyata yang sesuai dengan nilai-nilai rabbanuyah.
Ciri Rabbani dalam akhlak Islam bukanlah moral yang tradisional dan situasional, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai mutlak. Akhlak Rabbani mampu menghindari kekacauan nilai moralitas dalam kehidupan manusia.
Al Qur’an mengajarkan, « Inilah jalan-Ku yang lurus, hendaklah kamu mengikutinya, jangn kamu ikuti jalan-jalan lain, sehingga kamu bercerai berai dari jalan-Nya. Demikian yang diperintahkan kepadamu, agar kamu bertaqwa. » (Q.S. Al An’am: 153)


2.Akhlak Manusiawi (Al-Akhlaq Al-Insaniyyah)
Akhlak manusiawi (al-akhlaq al-Insaniyyah), yaitu bahwa ajaran akhlak islam selalu sejalan dan memenuhi kebutuhan fitrah manusia. Salah satu fitrah manusia adalah memihak kepada kebaikan dan kebenaran, walaupun sering pemihakanya itu bertentangan dengan lingkungan dan hasrat nafsunya. Kalau ada seseorang yang mengikuti hawa nafsunya saja, dan memihak kepada kebenaran “semu”, hasil rekayasa tangan dan otak jahil manusia, sesungguhnya ini bertentangan dengan hati nuraninya yang memihak kepada kebenaran hakiki. Fitrah yang dibawa manusia sejak lahir tidak dapat dilawan, ditolak, dan direkayasa, ia akan selalu membawa kepada ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. Dimanapun orang berbuat maksiat, akan selalu dihantui rasa bersalah, berdosa, dan tidak pernah tenteram. Hal ini karena bertentangan dengan fitrah kebenaran yang ada di dalam dirinya sendiri.
Akhlak Islam selalu menuntun untuk berbuat yang baik, memihak kepada kebenaran, dan media untuk menca[ai kebahagiaan yang hakik. Akhlak islam benar-benar menjaga dan memlihara keberadaan manusia sebagai makhluk yang terhormat, terpuji sesuai dengan fitrahnya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS ar-Rum(3): 30).
3.Akhlak Universal (Al-Akhlaq Al-Syamilah)
Akhlak universal (Al-Akhlaq al-syamilah), maksudnya adalah bahwa akhlak Islam itu bersifat universal dan sempurna, siapapun yang melaksanakan akhlak islam dijamin akan selamat. Contohnya al-Quran menyebutkan sepuluh macam keburukan yang wajib dijauhi oleh setiap orang, yakni :
  1. Menyekutukan Allah,
  2. Durhaka kepada kedua orang tanpa alasan yang sah,
  3. Membunuh anak karena takut miskin,
  4. Berbuat keji baik secara terbuka maupun tersembunyi,
  5. Membunuh orang tanpa alasan yang sah,
  6. Makan harta anak yatim,
  7. Mengurangi takaran dan timbangan,
  8. Membebani orang lain dengan kewajiban melampaui kekuatannya,
  9. Persaksian tidak adil,
  10. Mengkhianati janji dengan Allah (Qs, al-An’am, 6:151-152).
 Orang-orang yang non islam sekalipun kalau melaksanakan akhlak Islam, mislanya tidak berjudi, berzina, selalu berkata sopan, lemah lembut, tidak menyakiti hati orang lain, senang membantu orang lain yang terkena musibah, sabar, dan selalu berterima kasih atas rezki yng didapat dengan cara yang halal dan lain sebagianya, yang masuk dalam kelompok akhlak mahmudah, dijamin hidupnya akan bahagia di dunia ini. Inilah universalisme akhlak islam yang berlaku untuk semua orang dan bangsa di seluruh dunia, tanpa membedakan etnis, ras dan suku.
Akhlak Islam itu telah sempurna, sebagaiman kesempurnaan ajaran Islam itu sendiri. Hal ini dapat dilihat bahwa Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku kepada allah, melaiknkan juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam sekitarnya. Apabila hubungan segitiga, yakni kepada Allah, sesama manusia dan alam telah terjalin dengan baik, maka dijamin terciptanya kehidupan yang harmonis, bahagia, dan damai, baik secara spiritual maupun material.
4.Akhlak Keseimbangan (Al-Akhlaq At-Tawazun)

Akhlak keseimbangan (al-Akhlaq at-Tawazun), artinya bahwa akhlak islam berada di tengah-tengah antara pandangan yang menghayalkan manusia bagaikan malaikat yang selalu suci, bersih, taat terus kepada Allah, selalu mengikuti apa yang diperintahkan, dan pandangan yang menitikberatkan manusia bagaikan tanah, syetan, dan hewan yang tidak mengenal etika, selalu mengajak kepada kejahatan dan perbuatan-perbuatan nista. Manusia dalam pandangan Islam terdapat dua kekuatan dalam dirinya, yaitu kekuatan kebaikan pada hati nuraniya dan kekuatan jahat pada hawa nafsunya.
Manusia memilki naluriyah hewaniyah dan naluriyah ruhaniyah malaikah. Dua naluri tersebut harus dibimbing oleh akhlak islam su[aya tetap berada dalam keseimbangan. Naluriyah hewaniyah tidak dapat dipisahkan dari jasad manusia, melainkan harus diarahkan untuk disalutkan sesuai dengan prosedur dan aturan-aturan dalam Islam. manusia adalah makhluk yang berakal, bermartabat dan terhormat, kalau terus berada dan mengembangkan fitrah religiusitasnya. Namun manusia dapat meluncur ke tingkat yang paling rendah, hina dina bagaikan hewan, kalau tidak dapat menjaga fitrah bahkan melawanfitrah tersebut, dengan selalu berbuat nista. Akhlak Islam menjaga manusia agar selalu berada pada tingkat kemanusiaan dan menuntun kepada kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat. QS Al-baqarah(2): 201.

5.Akhlak Realistic (Al-Akhlaq Al-Waqi’iyyah)

Akhlak realistic (al-Akhlaq al-Waqi’iyyah), yaitu akhlak Islam memperhatikan kenyataan (realitas) hidup manusia. Manusia memang makhluk yang sempurna, memilki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan makhluk ciptaan allah lainya, tetapi manusia juga memiliki kelemahan-kelemahan. Ini adalah realitas bagi manisia, karena tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Satu sisi ada kelebihan, dan di sisi lain ada kelemahan. Kerja sama, tolong ,emolong adalah suatu bentuk kesadaran manusia bahwa dalam dirinya ada kelemahan dan kebaikan.
Untuk itulah akhlak Islam mengajarkan untuk menghargai dan menghormati orang lain, melakukan kerja sama atau saling kenal mengenal, kontak komunikasi dengan suku dan bangsa lain. Adalah kesombongan kalau ada orang yang mengatakan bahwa ia mampu hidup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan jasa orang lain. Ia tidak sadar, bahwa pakaian, kaca mata, sepatu, topi, ikat pinggang yang menempel setiap saat di tubuhnya, dan makanan, minuman, buah-buahan yang disantap setiap hari adalah bagian dan hasil jasa orang lain. Tiap orang tidak akan mampu menyediakan kebutuhan hidup dengan tangannya sendiri.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.(QS Al-Maidah (5):3).

Selain itu, akhlak islam juga realistis adalah bahwa allah tidak akan memberi beban kesanggipan kepada manusia di luar kemampuanya. Allah tidak egois dan memaksa kepada manusia, justru allah melihat kenyataan yang ada. Kalau memang manusia tidak sanggup melaksanakan perintah-perintah sesuai dengan aturan dan ketetapan yang telah ditetapkan secara rinci, manusia diberi kebebasan untuk mengambil keringanan (rukhsah) yang telah diberikan. Misalkan manusia boleh marah kepada orang lain yang berbuat tidak baik kepadanya, namun apabila memaafkan itu lebih baik. Perbuatan memberi maaf baik diminta ataupun tidak diminta adalah perbuatan yang mulia. Manusia sesungguhnya memilki kemampuan untuk memaafkan orang lain, karena Allah telah mengukur kemampuan yang dimiliki oleh manusia.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS Al-baqarah (2): 286).

Ruang Lingkup Akhlaq
Adapun ruang lingkup akhlaq menurut Abdullah Draz ada lima bagian yaitu :
  • Akhlaq pribadi terdiri dari Yang diperintahkan, yang dilarang, yang dibolehkan dan Akhlaq dalam keadaan darurat
  • Akhlaq berkeluarga terdiri dari Kewajiban timbal balik antara orang dengan anak, kewajiban sumai dengan istri dan kewajiban terhadap karib kerabat.
  • Akhlaq bermasyarakat terdiri dari Yang dilarang yang iperintahkan dan Kaedah-kaedah adab.
  • Akhlaq bernegara terdiri dari Hubungan antara pimpinan dan rakyat dan hubungan luar negeri.
  • Akhlaq beragama yaitu kewajiban terhadap Allah SWT.
Berangkat dari sistematika di atas, sedikit modifikasi, maka penulis membagi pembahasan akhlaq menjadi :
  • Akhlaq terhadap Allah SWT.
  • Akhlaq terhadap Rasulullah SAW.
  • Akhlaq pribadi
  • Akhlaq dalam keluarga
  • Akhlaq bermasyarakat dan
  • Akhlaq bernegara
Dalam keseluruhan ajaran Islam akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting dalam kehidupan, seperti terlihat dalam beberapa poin berikut ini :
Rasulullah SAW. Menempatkan penyempurnaan akhlaq, yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam, sebagai sabdanya :“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. (HR. Baihaqi). Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam, sehingga Rasulullah pernah mendefinisikan agam dengan akhlaq yang baik, sebagaimana sabda beliau.Terjemahannya :
“Ya Rasulullah, apakah agama itu ? beliau menjawab : agama itu adalah akhlak yang baik”.
Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah SAW. Menjadikan baik buruknya akhlaw seseorang sebagau ukuran kualitasnya. Islam menjadikan akhlaw baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT.Nabi Muhammad SAW. Selalu berdoa agar Allah SWT. Membaikkan akhlaq beliau.



Perbuatan Baik dan Buruk
Yang dimaksud perbuatan baik adalah :
  • Sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan
  • Sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya.
  • Sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang memberikan kepuasan
  • Sesuatu dengan sesuai dengan keinginan yang bersifat berfitrah
  • Sesuatu hal yang dikatakan baik, bila ia mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia.
Adapun yang dimaksud dengan perbuatan buruk adalah :
  • Sesuatu yang tidak baik, tidak seperti seharusnya, tidak sempurna dalam kualitas, di bawah standart, kurang dalam nilai dan tidak mencukupi.
  • Sesuatu yang keji, jahat, tidak bermoral dan tidak menyenangkan
  • Adalah segala sesuatu yang tercela, karena melanggar norma-norma atau aturan-aturan menurut yang ditetapkan oleh syara’ (agama).
Ukuran Baik dan Buruk
Persepsi Manusia Tentang Baik dan Buruk
Banyak orang yang berselisih pendapat untuk menilai suatu perbuatan, ada yang melihatnya baik dan ada yang melihatnya buruk. Dipandang baik oleh suatu masyarakat atau bangsa dipandang buruk yang lain. Dipandang baik pada waktu ini dinilai buruk pada waktu yang lain.
Selanjutnya dalam menetapkan nilai perbuatan manusia, selain memperhatikan nilai yang mendasarinya, kriteria lain yang harus diperhatikan adalah cara melakukan perbuatan itu. Meskipun seseorang mempunyai niat baik, tetapi lakukan dengan cara yang salah, dia dinilai tercela karena salah melakukannya, bukan tercela karena niatnya. Kadang-kadang tercelanya manusia itu dapat berpangkal dari keyakinan yang salah, bukan karena niatnya.
Tingkah laku manusia dapat diketahui bahwa element-element pokok yang perlu diperhatikan padanya adalah :
  • Kehendak (Karsa), yakni sesuatu yang mendorong yang ada di dalam jiwa manusia.
  • Manifestasi dari kehendak, yaitu cara dalam merealisir kehendak tersebut. Barangkali hal ini dapat disamakan dengan ungkapan karya, yakni perbuatan dalam mewujudkan karsa tadi. Kalau karsa dan karya menjadi satu, maka bisa dipastikan adanya aktivitas yang tidak kecil artinya.
Selanjutnya untuk menialai baik buruknya niat dan cara seseorang dalam melakukan perbuatannya haruslah berdasarkan ajaran Islam sebagaimana firman Allah SWT. Dalam QS. An-Nisa (4) : Terjemahannya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan oramg-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan perndapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebi utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya”.

Tujuan Akhlak
Tujuan akhlak adalah
1. untuk membentuk pribadi muslim,
2. bertingkah laku  yang baik demi meningkatkan derajat kehidupan manusia,
3. menyempurnakan keimanan
4. sebagai pengatur cara hidup berkeluarga dan bertetangga
5. mengatur adab pergaulan berbangsa dan bernegara.

            Jadi mempelajari ilmu akhlak bukanlah sekedar untuk mengetahui mana akhlak baik dan buruk, akan tetapi tang penting adalh, mengamalkan dan menerapkan akhlak yang luhur itu dalam kehidupan sehari-hari, sesuai tuntutan ajaran Islam.
Image

Tuesday, 26 September 2017

FUNGSI MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI



ALLAH SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi dari  setiap elemen alam ini. Mata hari punya fungsi, bumi punya fungsi, udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Pertanyaan kita adalah apa sebenarnya fungsi manusia dalam pentas kehidupan ini? Apakah sama fungsinya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan? atau mempunyai fungsi yang lebih istimewa ?
Bagi seorang atheis, manusia tak lebih dari fenomena alam seperti makhluk yang lain. Oleh karena itu, manusia menurut mereka hadir di muka bumi secara alamiah dan akan hilang secara alamiah. Apa yang dialami manusia, seperti peperangan dan bencana alam yang menyebabkan banyak orang mati, adalah tak lebih sebagai peristiwa alam yang tidak perlu diambil pelajaran atau dihubungkan dengan kejahatan dan dosa, karena dibalik kehidupan ini tidak ada apa-apa, tidak ada Tuhan yang mengatur, tidak ada sorga atau neraka, seluruh kehidupan adalah peristiwa alam. Bagi orang atheis fungsi manusia tak berbeda dengan fungsi hewan atau tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai bagian dari alam.
Bagi orang yang menganut faham sekuler, manusia adalah pemilik alam yang boleh mengunakannya sesuai dengan keperluan. Manusia berhak mengatur tata kehidupan di dunia ini sesuai dengan apa yang dipandang perlu, dipandang baik dan masuk akal karena manusia memiliki akal yang bisa mengatur diri sendiri dan memutuskan apa yang dipandang perlu. Mungkin dunia dan manusia diciptakan oleh Tuhan, tetapi kehidupan dunia adalah urusan manusia, yang tidak perlu dicampuri oleh agama. Agama adalah urusan individu setiap orang yang tidak perlu dicampuri oleh orang lain apa lagi oleh negara.
Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.
Fungsi Khalifah
Pada  dasarnya,  akhlak  yang  diajarkan   Alquran   terhadap lingkungan bersumber dari fungi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan  menuntut  adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan  mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam  pandangan  akhlak Islam,  seseorang  tidak  dibenarkan mengambil  buah  sebelum  matang,  atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Karena itu dalam Alquran ditegaskan bahwa :
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan  burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan  umat-umat (juga)  seperti manusia...”  (QS. Al-An’am  [6] : 38)
Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran  bahwa  apapun  yang  berada  di  dalam  genggaman tangannya,   tidak lain   kecuali    amanat    yang    harus dipertanggungjawabkan. “Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin yang berhembus di udara,  dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawabannya, manusia menyangkut pemeliharaan  dan pemanfaatannya”, demikian   kandungan  penjelasan  Nabi  Saw. tentang firman-Nya dalam Alquran
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kemikmatan (yang  kamu  peroleh).” (At-Takatsur, [102]:  8)
Dengan demikian  manusia bukan  saja  dituntut  agar tidak  alpa  dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antara keduanya, kecuali dengan (tujuan) yang hak dan pada waktu yang ditentukan” (QS Al-Ahqaf [46]: 3).
Pernyataan Allah ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan  kepentingan  diri  sendiri,  kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus  berpikir  dan bersikap  demi  kemaslahatan  semua pihak.  Ia  tidak  boleh bersikap  sebagai penakluk alam  atau  berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang,  istilah  penaklukan  alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani  yang beranggapan bahwa  benda-benda  alam  merupakan dewa-dewa yang memusuhi  manusia sehingga harus ditaklukkan.
Yang menundukkan alam menurut Alquran adalah  Allah.  Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 13)
Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya  tunduk  kepada  Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat. Aquran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad Saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad Saw. bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.
Ini berarti bahwa manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak  boleh  tunduk  dan merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak  oleh  benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda sehingga  mengorbankan kepentingannya sendiri. Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apapun  asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya tidak mengorbankan kepentingannya di akhirat kelak.
Memanfaatkan Segala Potensi
Manusia merupakan khalifah di bumi ini, diciptakan oleh Allah dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan yang menyertainya. Kita diberi akal pikiran dan juga hawa nafsu sebagai pelengkapnya. Manusia telah diberikan berbagai fasilitas di muka bumi sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia. Semua yang kita perlukan telah terhampar di alam semesta, manusia hanya perlu mengelolanya saja.
Dalam kelangsungan hidup manusia terjadi berbagai perkembangan di dunia, semakin kompleksnya kebutuhan manusia, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan terciptanya berbagai mesin-mesin dan berbagai alat komunikasi yang membantu meringankan kehidupan dan pekerjaan manusia. Didorong dengan nafsu keserakahannya, manusia hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, negara hanya berpikir untuk memajukan perekonomian dan pembangunan besar-besaran diberbagai sektor, tanpa memikirkan dampak lingkungan yang diakibatkan dari apa yang dilakukan manusia. Termasuk penduduk Indonesia perilakunya juga seperti itu, bisa dikatakan kepeduliannya sangat kecil terhadap lingkungan, ini tidak lepas dari tingkat kesadaran masyarakat dan juga desakan ekonomi yang juga menuntut masyarakat berusaha untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang diakibatkan.
Kegiatan manusia di dunia ini banyak menimbulkan masalah bagi lingkungan, erosi tanah, polusi udara, banjir, tanah longsor, tanah yang hilang kesuburannya, hilangnya spesies-spesies dalam ekosistem, kekeringan, hilangnya biota-biota laut dan yang paling memprihatinkan adalah pemanasan suhu global, yaitu peristiwa pemanasan bumi yang disebabkan oleh peningkatan ERK (Efek Rumah Kaca) yang disebabkan oleh gas rumah kaca (GRK), seperti CO2, CH4, Sulfur dan lain-lain yang menyerap sinar panas atau menyebabkan terperangkapnya panas matahari (sinar infra merah). ERK (greenhouse effect) bukan berarti disebabkan oleh bangunan-bangunan yang berdinding kaca, tapi hanya merupakan istilah yang berasal dari para petani di daerah iklim sedang yang menanam tanaman di rumah kaca.
Global Warming sangat perlu diperhatikan oleh seluruh penduduk dunia, dan termasuk didalamnya penduduk Indonesia, dengan bersinergi menurunkan dan memperlambat peningkatan greenhouse effect. Langkah-langkah nyata harus dilakukan oleh masyarakat, karena sangat besarnya dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain yang hidup di bumi.
Kita ketahui Indonesia merupakan negara maritim. Pemanasan global yang saat ini terjadi akan memicu naiknya suhu atmosfer bumi, dan akan menaikkan permukaaan air laut, yang juga didukung oleh pencairan es di kutub bumi. Hal ini dapat memicu tenggelamnya negara kita, didahului dengan tenggelamnya ribuan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia. Kalau pemanasan global tidak cepat ditanggulangi dan membiarkan kegiatan-kegiatan manusia yang tidak ramah dengan lingkungan, mungkin beberapa abad lagi negara kita akan tenggelam dan berakhirlah peradaban manusia di dunia.
Seiring pertumbuhan penduduk yang cenderung tidak dapat dikendalikan dan selalu menunjukkan peningkatan. Hal ini juga terjadi di Indonesia, akan memicu naiknya kebutuhan-kebutuhan manusia seperti pangan, tempat tinggal, listrik, BBM dan banyak kebutuhan lainnya. Kesemuanya itu akan meningkatkan kebutuhan manusia akan lahan-lahan yang digunakan untuk produksi pertanian, perkebunan, pertambangan, tempat tinggal, jalan-jalan dan fasilitas umum. Hal ini tidak bisa dipungkiri, dan akhirnya terjadilah penebangan pohon-pohon dan hutan untuk memenuhi kebutuhan untuk bahan baku industri tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang akan diderita.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan ummat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Allah untuk manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang. ***

Monday, 25 September 2017

AL-QURAN DAN CIRI-CIRI ORANG-ORANG BERTAQWA

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

Alif Laam Miim.(1) Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(2) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,(3) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.(4) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.(5)

URAIAN AYAT

Surat Al-Baqarah termasuk surat yang pertama-tama diturunkan sesudah hijrah dan merupakan surat yang paling panjang dalam Al-Quran. Menurut pendapat yang terkuat, ayat-ayat surat ini tidaklah diturunkan sampai selesai sebelum turun ayat-ayat dari surat lain. Dengan meneliti sebab-sebab turunnya beberapa ayat ini dan ayat-ayat dari surat Madaniyah lain – walaupun sebab-sebab itu bukanlah sebab yang pasti – menunjukkan bahwa ayat-ayat itu tidaklah diturunkan secara beruntun; tetapi beberapa ayat dari surat yang berikutnya sudah diturunkan sebelum surat yang terdahulu selesai. Adapun di dalam menentukan urutan surat, yang menjadi pegangan adalah turunnya ayat-ayat pertama dari surat; bukan seluruh ayat. Maka dalam surat Al-Baqarah ini kita jumpai ayat-ayat yang diturunkan di penghujung turunnya Al-Quran, seperti ayat riba. Sedangkan ayat dipermulaan surat menurut pendapat yang terkuat adalah ayat yang pertama turun di Medinah.

Ayat pertama dimulai dengan:

الم (1)
Alif Laam Miim.(1)

Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian surat-surat Al-Quran seperti; alif lam mim, alif lam raa, alif lam mim shad dan sebagainya.

Di antara ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang masuk ayat-ayat mutasyaabihaat dan ada pula yang menafsirkannya.

Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al-Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al-Quran diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al-Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad SAW semata, maka cobalah mereka buat semacam Al-Quran ini.

Mukjizat Al-Quran ini sama saja dengan mukjizat semua ciptaan Allah, sama saja dengan membandingkan ciptaan Allah SWT dengan buatan manusia. Lihatlah tanah yang tersusun indah dari partikel-partikel dan telah dikenal ciri dan sifatnya. Jika manusia mengambil partikel-partikel ini, paling-paling manusia mampu membentuknya menjadi lempengan atau batu bata, atau mangkok, bangunan atau alat-alat dengan bentuk yang rapi… Tetapi Allah Maha Pencipta, menjadikan pertikel-partikel itu penuh gerak. Semuanya menyimpan mukjizat Ilahi… rahasia hidup, rahasia yang tidak kenal manusia.

Demikian pula dengan Al-Quran… manusia dapat merangkai huruf dan kata-kata menjadi kalimat, prosa dan syair; tetapi Allah menjadikan Al-Quran dan Al-Furqan… Maka perbedaan antara buatan manusia dengan ciptaan Allah dalam susunan huruf dan kata-kata ini adalah seperti perbedaan antara tubuh yang kaku dengan roh yang hidup; perbedaan antara bentuk hidup dengan hakikat hidup.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya;

Telah nyata manusia tidak berdaya untuk menyusun huruf dan kata-kata seperti Al-Quran ini, lalu dari mana datangnya keraguan?

Al-Quran berulangkali menantang manusia yang meragukannya untuk menyusun huruf seperti Al-Quran, atau sepuluh surat, atau hanya satu surat saja. Namun sampai sekarang tidak ada seorang manusiapun yang sanggup menjawab tantangan ini.

هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)
petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(2)

Al-Quran adalah petunjuk hidup, cahaya dan pengarah yang gamblang. Dengan itu manusia akan terhindar dari bahaya kesesatan dan mantap menjalani kehidupan menuju tujuan sejati.

Tetapi tidak semua orang yang mampu memahami dan mengamalkan petunjuk Al-Quran ini… Ia adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa…

Taqwa bukan hanya sebatas pengertian "takut" belaka…Taqwa adalah membuka pintu hati sehingga sinar Al-Quran masuk ke dalamnya… Taqwa mempersiapkan hati untuk menggapai petunjuk… Taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Selanjutnya diterangkan ciri-ciri orang-orang yang bertaqwa:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,

Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa; dan ditandai oleh kemauan untuk mengerjakan apa yang dikehendaki iman; tanpa demikian sama sekali bukanlah iman.

Sedangkan "yang ghaib" ialah yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera…

Orang yang bertaqwa percaya kepada yang ghaib, yakni; meyakini adanya "yang maujud" di luar yang ditangkap panca indera, karena ada dalil yang menunjukkan adanya… Iman kepada yang ghaib adalah pintu gerbang pertama yang harus dilewati manusia untuk meningkatkan dirinya dari taraf binatang yang hanya menangkap sesuatu dengan panca indera, menanjak naik ke taraf manusia yang dapat memahami bahwa maujud ini jauh lebih besar dari yang ditanggapi panca indera, termasuk ciptaan manusia yang tak lebih dari pancaindera yang diperluas.

Hal ini akan melahirkan pengaruh yang sangat dalam kepada manusia dalam memahami hakikat wujud secara menyeluruh, termasuk memahami dirinya sendiri… merasakan bahwa alam ini tidak hanya alam fisik, tetapi di balik itu ada metafisik. Bahwa di balik yang kasat mata, ada kekuatan yang lebih besar dari alam dan mengatur segalanya… Dialah Allah SWT.

Hati yang dipenuhi keyakinan begini senantiasa bertaqarrub kepada Allah dan berubudiyah kepadaNya juga.

Selanjutnya ciri-ciri orang yang bertaqwa:

وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ
yang mendirikan shalat

Shalat menurut bahasa Arab berarti; do'a. Menurut istilah syara' adalah ibadat yang sudah dikenal, dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam.

Mendirikan shalat yakni; menunaikannya dengan teratur, melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik lahir maupun bathin, seperti khusu', memperhatikan yang dibaca dan lain sebagainya.

Bila kita mempelajari lebih mendalam sistem keagaan Islam, maka kita akan memahami bahwa fungsi shalat antara lain adalah sebagai media penghubung antara hamba dengan Khaliqnya…

Mereka yang hatinya penuh taqwa akan terjauh dari penghambaan diri kepada manusia atau kepada benda, dan hanya menghambakan dirinya kepada Allah Pemilik Kekuatan Mutlak tanpa batas. Lalu, menginsafi bahwa tujuan hidupnya bukanlah untuk membenamkan diri dalam kehidupan duniawi dan segala manifestasi-nya.

Hubungan yang erat dengan Allah SWT menimbulkan kesadaran bahwa segala rezeki yang diterima adalah karunia Allah SWT sebagai penunjang pengabdian kepadaNya; dalam arti yang seluas-luasnya.

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)
dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,(3)

Rezeki: segala yang dapat diambil manfa'at-nya… dan orang yang bertaqwa menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, sesuai dengan pengarahan Al-Quran.

Kemudian, tentang lanjutan ciri orang bertaqwa:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.(4)

Mereka yang bertaqwa yang hatinya bersemi dengan siraman Al-Quran adalah bagian dari kafilah mukmin sepanjang sejarah, selalu memantapkan diri dalam pengabdian yang tulus kepada Ilahi. Mereka menyadari bahwa tanpa petunjuk Ilahi, maka manusia tidak akan pernah mampu memahami hakikat hidup sebenarnya. Petunjuk yang berupa wahyu itu diturunkan Allah kepada manusia melalui perantaraan para nabi dan rasul… dan, sebelum Allah menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW maka Allah telah menurunkan KitabNya yang lain kepada nabi dan rasul terdahulu; semuanya bertujuan untuk membimbing manusia menempuh jalan yang benar, dan agar jangan terjerumus ke lembah kesesatan dan kenistaan.

Tetapi apa yang terjadi?

Kitab-kitab terdahulu seperti Taurat dan Injil, telah dinodai tangan-tangan jahil…

Berbeda dengan Al-Quran ini, dimana prinsif-prinsif yang terdapat pada wahyu terdahulu telah terangkum di dalamnya, telah dijamin Allah penjagaannya. Itulah yang ditegaskan Allah di dalam surat Al-Hijir ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS.Al-Hijr: 9)

Pada ayat yang ke-5 surat Al-Baqarah ini, datanglah ketetapan Allah SWT:

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.(5)

Mana lagi petunjuk yang lebih lurus dan lebih benar dari petunjuk Allah?

Jadi dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam menempuh liku-liku kehidupan ini, dan bersifat dengan sifat orang-orang yang bertaqwa, adalah sebagai kunci penentuan nasib peruntungan kita…

Saturday, 23 September 2017

Makna Kalimah Tauhid : Laa Ilaaha Ilallah




Pernyataan “Laa ilaaha illa-Allah” merupakan penerimaan dan janji seseorang untuk mengabdikan diri kepada Allah semata dengan menjadikan Islam sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan dan satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk mengabdi kepada-Nya serta membebaskan semua ketergantungan kecuali hanya pada Allah.

Konsekuensi Laa Ilallah dapat dikelompokan menjadi 3 Tauhid yaitu :
  1. Tauhid Rububiyah dengan makna :
    LaaKhaalika illallah,
    Laa hafidza illaah
    Laa Mudabbira ilallah
    LaaRaazika illallah
  2. Tauhid Uluhiyah dengan makna :
    LaaMa’buda illallah
    LaaGhoyatu illallah,
    LaaWaaliya illallah
  3. Tauhid Mulkiyyah dengan makna
    LaaMaalika illallah,
    LaaMulka illallah
    LaaHaakima illallah

1. Tauhid Rububiyyah

Makna Laa Khaaliqa Ilallah
Qs 2:21 : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa”
Qs 51:56 : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”
Qs 7:54 “…mencipta dan memerintah hanyalah hak Allah.
Manusia  ‘berislam’ kepada Allah sebagaimana mengadakan ‘kontrak perjanjian tauhid’ (QS 7:172 ; 30:30).
Bukti bahwa sebenarnya Manusia ‘Islam” adalah bahwa kebanyakan manusia akan menjawab ‘Allah’ jika ditanya “Siapakah pencipta langit dan bumi”? (QS 10:31).
Seluruh manusia mengakui bahwa jagat raya ini ada penciptanya dan bahwa di luar kekuatan mahluk terdapat kekuatan supranatural yang maha hebat yang menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan dan kebesaran Allah
(QS 2:164 ; 3:190-191 ; 30:20-27 ; dsb.)

Banyak manusia yang berfikir tentang bagaimana kejadian alam semesta ini sehingga menghasilkan berbagai teori  bigbang, evolusi dll. Namun apapun hasil pemikiran mansuia tersebut, mereka sebenarnya hanya menduga-duga saja. Dugaan mereka bisa benar, bisa salah. Yang jelas benar adalah bahwa proses kejadian alam semesta maupun proses-proses yang ada di alam semesta itu sendiri merupakan ciptaan Allah Ta’ala, mungkin melalui teori bigbang, hukum positif materi, evolusi, dialektika sejarah, atau beratus beribu bahkan berjuta kemungkinan yang lain.
(QS 45:22-26).

QS 22:5 ; 10:3–6 ; 16:65-72 ; 24:41-45 ; 25:45-54
Yang memiliki kemampuan mencipta hanya Allah, taksatupun mahkluk diberi wewenang untuk mencipta. Yang bisa dilakukan makhluq hanya mengutak-atik yang telah ada, melakukan assembling. Kiranya suatu saat manusia dapat membuat makhluk hidup dengan mencampur berbagai bahan kimia, itupun hanya assembling, membuat dari yang ada. Hanya memberikan kondisi supaya terjadi kehidupan, sama halnya dengan manusia dapat memberikan kondisi kepada kematian.

Makna Laa Haafidha Illa LLah.
 
Allah sebagai Satu-satunya Penjaga alam semesta beserta isinya, baik mulai yang lalu, sekarang, maupun sampai nanti di hari akhir. Allah SWT menciptakan suatu mekanisme untuk menjaga alam dan isinya agar senantiasa harmonis, misalnya mekanisme makrokosmos. Bumi, bulan, matahari, dan berjuta bahkan bermilyard ‘matahari’ yang lain (bintang-bintang) mempunyai garis edar, kecepatan edar, dan berat masing-masing.  ‘Benda-benda besar’ itu bergerak mengikuti konfigurasi tertentu sehingga tidak saling bertubrukan

(QS 10:5 ; 36:38-40 ;dsb).
Allah juga menjaga pertumbuhan embrio dalam rahim ibu (QS 22:5 dsb).
Allah juga menjaga terhadap kemurnian al-Quran, sehingga banyak orang yang bisa mendalami dan menghafalkan kitab suci tersebut. 

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran”? (QS 54:17,22,32,40).
“Dan sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran dan Kamilah yang menjaganya” (QS:15:9).

Makna Laa Mudabbira Illallah
Tiada pengatur di alam semesta ini kecuali Allah SWT semata, maknanya Allah sebagai pembuat tunggal aturan-aturan kehidupan, baik dalam kehidupan natural, sosial, maupun kultural. Dalam kehidupan misalnya, Allah sebagai Mudabbir (Pengatur) dinamika jagat raya yang, sebagaimana Muslim dan non-Muslim ketahui, begitu harmonisnya tanpa cacat. Bermilyard-milyad bintang bergerak tanpa bersentuhan satu dengan lainnya. Begitu luasnya dimensi ruang alam sehingga sinar suatu bintang yang terangnya berpuluh bahkan beratus kali sinar matahari hanya berkelap-kelip. Gerakan rotasi maupun revolusi matahari dan bumi yang begitu rapi tetap menghasilkan 24 jam sehari. Sinar panas mentari yang diterima laut sehingga uapnya dibawa angin ke atas lalu berwujud awan berubah menjadi air hujan dingin yang jatuh ke bawah sehingga menumbuhkan tanaman lalu manusia bisa makan nasi, roti, buah-buahan, dsb. dan minum teh, kopi, coklat, dsb.
“Dia (Allah) mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS as-Sajdh 32:5).
Gejala alam semesta tersebut di atas begitu harmonis tanpa problem, karena memang tidak ada sekutu bagi Allah dalam mengatur kehidupan natural.
Sebaliknya, kehidupan sosial dan kultural manusia saat ini telah rusak, sakit, dan penuh dengan problems. Quran menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut karena ulah tangan manusia (QS ar-Ruum 30:41). Lihatlah pembunuhan, perang, korupsi, perampokan, prostitusi, penipuan, monopoli, perjudian, permabukan, dsb-dsb. Mengapa demikian ?!  Tangan-tangan kotor manusia telah merusak dunia, yaitu dengan mengangkat “tuhan-tuhan yang baru” (sesama manusia, nafsu, otak, harta, isme, boss, teknologi, jabatan, uang, dsb-dsb) sebagai pengatur kehidupan sosial dan kulturalnya. Aturan hidup dari Tuhan yang sebenarnya (Allah), yaitu Diinul-Islam, dicampakkan begitu saja, diabaikan, atau disesuaikan dengan “tuhan-tuhan baru”-nya.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? …”(QS al-Jatsiyah 45:23).
“Katakanlah: mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi madharat kepadamu dan tidak pula memberi manfaat ? …”(QS al-Maidah 5:76)
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa…”(QS al-Anbiyaa 21:22).
Makna “Laa Raazaqa Ilallah”
Qs 2:22 “Dialah yang menjadikan bumi sebagi hamparan bagimu dan langit  sebagai atap, dan dia menurunkan air(hujan) dari langit, lalu Dia  menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki  untukmu …”

Qs 17:30-31 : “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia       kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui  lagi Maha Melihat akan hamba-hambNya. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karean takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.       Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
Allah sebagai Raazaq artinya Allah sebagai pemberi rejeki kepada seluruh mahluk di alam semesta. Pada hakekatnya semua rejeki yang dinikmati mausia berasal dari Allah. Allah sajalah yang menjadikan otot-otot manusia berfungsi sehingga dapat bergerak untuk mencari uang atau harta benda. Allah sajalah yang menjadika otak manusia bekerja sehingga dapat berpikir  untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah sajalah yang menciptakan alam semesta beserta isinya sehingga manusia dapat makan nasi, minum air, bernafas udara, bermandi sinar matahari, meikmati pemandangan alam yang indah, dsb.
Rejeki adalah ‘nikmat’, yaitu segala sesuatu yang enak yang dicari dan dibutuhkan manusia seperti uang, harta benda, ilmu, kesempatan, kesehatan, kemampuan, jabatan, dan sebagainya. Rejeki (nikmat) yang paling berharga, dari seluruh rejeki di dunia ini, adalah petunjuk (Huda) dari Allah untuk hidup dalam Iman dan Islam.
 “Maka nikmat Tuhanmu yag manakah yang kamu dustakan ?” (“Fabiayyi aalaaai rabbikumaa tukadzdzibaan”), demikian sindiran Allah yang diulang sampai 31 kali dalam surat ar-Rahmaan. “Jika kamu menghitung nikmat Allah maka kamu tidak akan mampu” (“Wain ta’udduu ni’matallaahi laa tuhsuuhaa”), demikian firman Allah dalam ayat lain.
Kewajiban manusia adalah bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan, yaitu dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Dengan kata lain, sebagai ‘abdullah’ manusia mengabdi (memperhambakan diri) hanya kepada Allah dan sebagai ‘khalifatullah’ manusia mengelola dan memanfaatkan alam semesta beserta isinya menurut aturan-aturan Sang Pencipta (Allah SWT). 
“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'” (QS Ibrahim 14:7).
“Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu dari segala keperluan yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah” (QS Ibrahim 14:34).
Katakanlah,’Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rejeki yang sebaik-baiknya” (QS Saba’ 34:39).

Allah jamin rizki tiap-tiap mahluknya, siapa takut tidak dapat rizki, rizkinya akan sempit. Kita samasekali tidak boleh khawatir terhadap rizki yang diberikan Allah, tetapi kita tidak boleh berpangku tangan, diam menungguh hujan rizki dari langit, kita harus/diwajibkan berusaha, ikhtiar untuk mendapatkannya.
Salah satu rizki yang jarang diperhitungkan manusia adalah oksigen. Pernahkah kita merenung rizki oksegen yang kita hirup setiap saat?  bagaimana kalau penggunaan oksigen di charge? Coba anda hitung kita butuhkan oksigen kita 24 jam, lalu harga oksigen, kemudian hitung berapa uang yang harus dikeluarkan kalau oksigen kita beli       setiap bulan? Tidakkah ikwan berpikir betapa rizki Allah diberikan tanpa menghitung-hitung. Coba renungkan lagi, renungkan dan renungkan.
Kecenderungan ketakutan untuk tidak memperoleh rizki ini kiranya  banyak melanda kita, kita ragu-ragu bahkan mau-maunya manusia mencari yang tidak halal, termasuk korupsi yang sedang hangat  didiskusikan. Kini orang takut pula punya anak lebih dari dua,  takut rizkinya sempit, padalah Allah menjamin anak-anak itu       lihat ayat diatas, tapi kita RAGU terhadap jaminan Allah ini,  keraguan ini menunjukkan pengertian kita terhadap aqidah masih lemah. Apakah ikhwan RAGU terhadap jaminan ALLAH ? renungkanlah,        lalu jika tidak saya ucapkan selamat, iman ikhwan telah tegar, bila jawabnya iya, berushalah meningkatkan iman, yakinlah kepada Allah sepenuh jiwa, hilangkan semua keraguan. Ingat iblis dan   pasukannya menghancurkan pertahanan iman dari keraguan.



2. Tauhid Uluhiyyah

Makna “Laa Waliya Ilallah”
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui” (QS al-Ankabuut 29:41).
Mereka memproklamirkan “tuhan-tuhan yang baru” sebagai pelindung kehidupan yang kekuatan sebenarnya seperti sarang laba-laba – lemah dan suatu saat akan hancur. Realitas sejarah telah berbicara; “tuhan komunisme” telah tumbang, sesudah dijadikan pelindung puluhan (mungkin) ratusan juta orang selama kurang lebih setengah abad; “tuhan jabatan” tidak akan melindungi lagi setelah pensiun; “tuhan teknologi” (senjata, televisi, video, dsb) tidak jarang menimbulkan kerusakan-kerusakan. Semua “tuhan-tuhan baru” ciptaan manusia akan binasa dan hancur, setelah Tuhan yang sebenarnya (Allah Rabbul-‘izzati) memerintahkan malaikat Isrofil untuk meniup terompet sangkakala, pertanda kehidupan dunia mulai berganti dengan Hari Akhir.
Bagi orang-orang yang beriman, pelindung kehidupannya adalah Pelindung Perkasa – Allah Azza wa Jalla. Rasulullaah SAW dan sesama orang yang beriman juga menjadi pelindungnya, untuk tetap mempertuhankan Allah semata.
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” (QS Yunus 10:62-63)
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah (QS al-Maidah 5:55). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan …”(QS at-Taubah 9:23)
Makna Laa Ghaayah ilallah
Allah sebagai Ghaayah artinya Allah sebagai tujuan hidup.   Sadar atau tidak, dipahami atau tidak, beriman atau tidak, semua manusia sedang berjalan terus, dari detik-menit-jam-hari-bulan-tahun ke seterusnya, menuju ke keharibaan Allah yang Agung. Dengan kata lain, seluruh manusia akan pasti mati dan kemudian mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya ketika di dunia. Semua manusia meyakini realitas kematian tetapi tidak semuanya beriman kepada hari akhir. “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu. Maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS al-Insyiqaaq 84:6).
Makna yang lain adalah bahwa semua aktifitas kehidupan manusia hendaklah diorientasikan kepada Allah, menuju Mardhatillaah. Alam semesta beserta isinya telah diciptakan dan diberikan kepada manusia dengan gratis; Allah hanya menganjurkan manusia, tidak memaksanya (baca QS 2:256 ; 18:29), untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah. Semuanya milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah (“Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”). Dan kepada Allah-lah dikembalikan semua urusan (“Wailallaahi turja’ul umuur”).
Konsekuensi dari pengertian ini adalah bahwa semua aktifitas kehidupan manusia dilakukan dengan niat utama ibadah kepada Allah, yang tentunya menurut aturan Allah. Makan, minum, tidur, belajar, bekerja, berolahraga, shalat, puasa, dsb-dsb., harus ditujukan pada titik akhir, yaitu ridha Allah. Jika manusia memenuhi kewajibannya untuk beribadah kepada Allah, maka Allah pasti akan memberikan hak kepada manusia untuk memperoleh kenikmatan di dunia dan akhirat. Bahkan kepada orang yang ingkar (kafir) pun, Allah memberikan nikmat (tetapi di dunia saja).
Seseorang yang belajar harus diniatkan untuk mengabdi kepada Allah sebagai niat utama. Niat untuk mencari ilmu dan agar kelak mendapatkan pekerjaan tidaklah niat yang salah, tetapi niatan itu harus di bawah niat utama. Sebagai orang yang beriman, segala sesuatunya harus dapat dikembalikan kepada Allah; Jaringan relasi antara mukmin dan Allah tidak harus putus, tetapi senantiasa harus dijalin terus-menerus dalam segala aspek kehidupan, sebagai bukti dari keimanannya itu.
Qs. 94:8 ” Dan hanya kepada Allalah hendaknya kamu berharap (menempatkan tujuan).”
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia dan bertaqwalah kepada-Nya, dan sekali-kali Tuhanmu tidak lali dari apa yang kamu kerjakan” (QS Huud 11:123)
Laa Mahbuuba illa laah

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binaang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS al-‘Imran 3:14).
Cinta yang paling utama bagi seorang mukmin adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan perjuangan di jalan-Nya. Walaupun demikian, mayoritas manusia yang hidup di dunia saat ini ‘tidak beriman’; Mereka mengabaikan cinta yang utama tersebut. Cinta kepada harta, uang, jabatan, anak maupun istri (suami) – yang berlebihan – mengalahkan cinta yang utama tersebut. Materialisme dan kapitalisme telah membelengu manusia yang ingin mengabdikan diri kepada ‘Tuhan yang sebenarnya’ (Allah Rabbul-‘aalamiin). Dua paham (isme) tersebut telah menjadi ideologi, menjadi ‘tuhan-tuhan yang baru’. Dunia telah menjadi obyek cinta yang berebih-lebihan. Padahal, Allah Mahbuub – yang berhak diutamakan dalam cinta.
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah         mendatangkan keputusannya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-oang fasik” (QS at-Taubah 9:24)
Seseorang yang mencintai sesuatu senantiasa berusaha untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan apa yang dicinanya. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus dijalin dengan terus-menerus, seperti diwujudkan dengan shalata, membaca al-Quran, mengkaji hadits-hadits, beramal sholeh, dsb. Ketaatan kepada Alah dan Rasul-Nya adalah bukti cinta orang-orang yang beriman. Cinta dunia harus dapat diorientasikan kepada cinta Allah dan Rsul-Nya, agar kecintaan kepada dunia dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya, tidak berlebihan-lebihan. Dengan kata lain, cinta dunia untuk mencari ‘mardhatillah’
Makna Laa Ma’buuda Ilallah
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan  itu segala buah-buahan sebagai rejeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS al-Baqarah 2:21-22)
Manusia diperintahkan untuk menyembah (mengabdikan diri) hanya kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang pantas menjadi sesembahan (Ma’buud).   Allah sebagai sesembahan adalah konsekuensi tertinggi dari syahadat-tauhid (‘Laailaaha illallaah’). Seseorang yang telah bersyahadat-tauhid berarti dia telah memproklamirkan dan berjanji untuk mengabdikan dirinya kepada Allah semata, artinya tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun. Dia telah menyatakan dirinya Muslim (orang yang tunduk-patuh kepada Allah sehingga selamat di dunia dan akhirat). Konsekuensinya, hidupnya untuk taat kepada Allah dan matinya diridloi Allah.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’. Tiada sekutubagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah (Muslim)” (QS al-An’aam 6:162-163)
Namun ternyata kebanyakan  mempertuhankan sesama manusia, harta benda, kekuatan alam, maupun nafsu pribadinya. Isa al-Masih yang manusia biasa tu dijadikan sebagai tuhan. Materialisme telah menjadi ideologi yang menggeser aspek ketuhanan. Kekuatan alam, bukan Sang Penciptanya, dianggap sebagai pengatur kehidupan. Nafsu pribadi telah menggusur aturan-aturan Allah untuk memenuhi kebutuhan duniawi.

3. Allah sebagai pemilik (Al-Malik)

 Allah-lah yang memiliki langit dan bumi dan segala diantara keduanya.  Al-Malik berarti juga rajadiraja. Kerajaan Allah meliputi langit dan bumi. Simak Firman Allah Qs 3:26-27.“Katakallah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hdup. Dan Engkau beri rizki yang Engkau kehendaki tanpa hisab.” (27)
Kedua ayat diatas menunjukkan Maha Kuasa Allah pemilik kerajaan,  Dia dapat berbuat apa saja yang dia kehendaki, berkuasa mutlak.   jadi pada perinsipnya semuanya ini milik Allah, harta yang kita  miliki pada hakekatnya adalah milik Allah yang dipinjamkan/amanat kepada kita, kelak akan  ditanyai amanat itu.
Karena Allah Raja-diraja maka Allah berkuasa mutlak, semua     kejadian di alam yang fana ini atas izin Allah. Mu’jizat para     nabi dan rasul, yang seolah-olah bertentangan dengan sunnatullah      (kalau dilihat dari kacamata sunatullah yang kita kenal)      terjadi karena izin Allah. Semua makhluk adalah hambanya.      Manusia adalah hambanya yang paling mulia sekaligus paling      bandel. Alangkah sombongnya manusia itu, sudah dikarunia      kemulyaan eh menentang, petantang-petenteng, sombong, patutlah      dia di tindak tegas oleh Allah. Tetapi Ada golongan manusia      yang sangat mulia disisi Allah, dialah orang-orang yang bertaqwa.
 Allah berkuasa memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan berkuasa pula mencabut kekuasaan dari siapa      yang dia kehendaki. Allah berkuasa memuliakan siapa yang dia      kehendaki, begitu pula menghinakannya. Berlindung pada Raja      diraja (Allah) dengan kekuasaannya.  
Allah sebagai pelindung (Al-Waliy)
Allahlah pelindung dan penolong mahlukNya, mintalah  perlindungan kepada Allah, niscaya Allah akan melindungi.
Qs 2:257  ” Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.”
Perhatikan bagaimana Allah melindungi sang bayi yang tidak memilik kekuatan apa-apa dengan kasih sayang dari orang tuanya? 
Allah sebagai Hakam (yang membuat hukum)
Pengakuan Allah sebagi pembuat hukum harus diakui secara i’tiqadi. Allahlah yang berhak membuat hukum, hukum-hukum yang kita ikuti harus diturunkan dari hukum Allah sekali tidak diperkenankan menentang hukum Allah. Konsekuensi orang yang berhukum selain hukum Allah sangat berat.
Qs 5:44-50 : “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  kafir.” (44)
 “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  zalim.” (45)
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang  diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  fasik .” (47)