Agama Islam itu mempunyai delapan macam sifat yang tidak dimiliki oleh
agama lainnya, sehingga karenanya agama Islam ADALAH PATUT DIKATAKAN
merupakan satu-satunya agama yang sempurna di dunia ini.
Delapan macam sifat agama Islam tersebut adalah:
1. Agama Islam itu adalah agama “fithrah”.
2. Agama Islam itu adalah agama yang: mudah, rational dan praktis.
3. Agama Islam itu adalah agama yang mempersatukan antara kehidupan
jasmani dan kehidupan rohani, dan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.
4. Agama Islam itu adalah agama yang menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi (individual) dan kehidupan bermasyarakat.
5. Agama Islam itu adalah merupakan jalan hidup yang sempurna.
6. Agama Islam itu adalah agama yang universal dan manusiawi.
7. Agama Islam itu adalah agama yang stabil dan sekaligus berkembang.
8. Agama Islam itu adalah agama yang tidak mengenal perubahan.
Ad.1. Agama Islam adalah “agama fithrah”.
Fithrah itu ada dua macam, yaitu fithrah mukhallaqah dan fithrah munazzalah.
Yang dimaksud dengan fithrah mukhallaqah adalah kejadian manusia yang terdiri dari tiga unsur jiwa, yaitu:
a. Nafsu, yang gejalanya nampak pada tingkah laku lahiriah. Oleh
karena manusia itu mempunyai nafsu, maka manusia disebut juga “homo
animale”.
b. Akal fikiran atau kalbu atau ratio yang membuat manusia dapat
berfikir dan memiliki keyakinan. Karena manusia mempuyai ratio, maka
manusia juga disebut “homo rationale”.
c. Hati nurani atau sarirah atau ‘ainul basirah yang membuat manusia
dapat memiliki budi pekerti. Karena manusia mempunyai budi pekerti, maka
manusia disebut juga “homo somatica”.
Adapun yang dimaksud dengan fithrah munazzalah adalah ajaran agama Islam yang terdiri dari tiga macam, yaitu:
a. Ajaran tentang “iman” yang dipergunakan untuk membimbing manusia selaku “homo rationale”.
b. Ajaran tentang “islam” ysng dipergunakan untuk membimbing manusia selaku “homo animale”.
c. Ajaran tentang “ihsan” yang dipergunakan untuk membimbing manusia selaku “homo somatica”.
Dalam Al Qur’an surat Ar Rum ayat 30 Allah swt. berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ
النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ
الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ .
“(Setelah jelas kesesatan syirik itu) maka hadapkanlah dirimu (engkau
dan pengikut-pengikutmu, wahai Muhammad) ke arah agama yang jauh dari
kesesatan; (turutlah terus) agama Allah, yaitu agama yang Allah
menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semula jadinya) untuk
menerimanya; tidaklah patut ada sesuatu perubahan pada ciptaan Allah
itu; itulah agama yang benar lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”.
Pengamalan dari ketiga macam ajaran agama Islam tersebut di atas,
menurut pengarang dari kitab “Iqadhul Himam” syarah dari kitab “Al
Hikam” adalah sebagai berikut:
وَعَمَلُ الإِسْلاَمِ هِيَ الشَّرِيْعَةُ لِتَعْبُدَ اللهَ لإِصْلاَحِ
ظَوَاهِرِكَ بِالتَّوْبَةِ وَالتَّقْوَى وَالإِسْتِقَامَةِ . وَعَمَلُ
الإِيْمَانِ هِيَ الطَّرِيْقَةُ لِنَقْصُدَ اللهَ لإِصْلاَحِ ضَمَائِرِكَ
بِالإِخْلاَصِ وَالصِّدْقِ وَالطُّمَأْنِيْنَةِ . وَعَمَلُ الإِحْسَانِ
هِيَ الْحَقِيْقَةُ لِتَشْهَدَ اللهَ لإِصْلاَحِ سَرَائِرِكَ
بِالْمُرَاقَبَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمَعْرِفَةِ.
Artinya: “Pengamalan “islam” adalah syari’at (dalam arti sempit),
agar engkau dapat menyembah Allah, untuk memperbaiki tingkah laku
lahirmu, dengan bertaubat, bertaqwa dan beristiqamah (melakukan ibadah
secara terus-menerus = continue ). Pengamalan “iman” adalah thariqat
(bukan gerakan thariqat), agar engkau dapat menuju kepada keridlaan
Allah, untuk memperbaiki tingkah laku hatimu, dengan berbuat ikhlas,
jujur dan mantap. Pengamalan “ihsan” adalah hakekat, agar engkau dapat
menyaksikan keagungan Allah, untuk memperbaiki hati nuranimu, dengan
muraqabah (selalu merasa diawasi Allah), musyahadah (mengamati kekuasaan
Allah yang berlaku pada setiap makhluk-Nya) dan ma’rifat (menghayati
keberadaan Allah melalui ciptaan-Nya).
Ketiga macam ajaran agama islam tersebut di atas juga disebut
“Risalah Islamiyah”. Adapun sistem yang dijalankan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. Dalam mengemban “Risalah Islamiyah” tersebut di atas
adalah sebagai berikut :
Pertama : Selama kurang lebih 11 (sebelas) tahun lamanya, Nabi Besar
Muhammad saw, menanamkan ke-tauhid-an (ke-esa-an) Tuhan (Allah) pada
bangsa arab yang berfaham polytheisme (mempercayai Tuhan sebanyak 360)
melalui pendekatan rational. Kemudian menggembleng ke-tauhid-an mereka,
sehingga dapat menjadi bangsa yang memiliki keyakinan “tauhid mutlak”
atau “monotheisme absolut” yang sangat kuat.
Kedua : Nabi Besar Muhammad saw. mengajak para pengikutnya yang telah
memiliki keyakinan tauhid mutlak yang sangat kuat untuk beribadah
(menyembah) kepada Allah saja secara tekun dan istiqomah
(terus-menerus), guna mendekatkan diri kepadaNya.
Ketiga : Nabi Besar Muhammad saw. melatih para pengikutnya yang telah
memiliki keyakinan tauhid mutlak yang sangat kuat dan telah melakukan
ibadah dengan istiqamah untuk mengamalkan budi pekerti yang mulia, agar
dapat menjadi manusia yang sempurna (insan kamil).
Dengan sistem tersebut di atas. Nabi Besar Muhammad saw, dalam waktu
yang kurang dari seperempat abad (=23 tahun), dengan biaya yang kurang
dari 1% dari biaya revolusi Perancis, dan dengan korban kurang dari 1000
(seribu) orang, telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula
merupakan bangsa yang paling bejat dalam bidang keyakinan, tertib hukum
dan moral (akhlak), menjadi bangsa yang memiliki keyakinan tauhid mutlak
yang sangat kuat, sangat taat pada hukum-hukum Islam dan memiliki budi
pekerti yang luhur, yang kesemuanya itu merupakan perubahan sosial yang
paling besar dalam sejarah kehidupan umat manusia yang tidak ada tolok
bandingannya. Inilah sistem yang paling tepat untuk dicontoh dalam
membangun kepribadian seseorang maupun kepribadian sesuatu bangsa.
Dalam surat Al Ahzab (S:33) ayat 21 Allah swt telah berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ
كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suatu
suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah”.
Ad.2 Agama Islam adalah agama yang mudah, rational, dan praktis.
2.1 Yang dimaksud dengan mudah adalah bahwa tidak ada satupun dari
bentuk-bentuk peribadatan dalam Islam yang sulit dan jelimet yang hanya
dapat dimengerti dan dapat dikerjakan oleh tokoh-tokoh agama atau para
alim ulama’ saja. Setiap bentuk peribadatan dalam agama Islam dapat
dimengerti dan dapat dikerjakan oleh setiap orang muslim meskipun orang
yang paling awam. Sampai-sampai masalah shalat yang lima kali sehari
semalam, yang diantara rukun-rukunnya (pekerjaan-pekerjaan yang wajib
dikerjakan) adalah bacaan “fathihah” dan “tasyahhud/tahiyyat”, bagi
orang yang sama sekali belum dapat membacanya (belum hafal atau belum
mengenal huruf-huruf Al-qur’an, kedua bacaan tersebut boleh diganti
dengan bacaan : “dzikir” seperti bacaan لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ = Laa
ilaaha illallah. Demikian pula bacaan-bacaan yang dianjurkan selama
melakukan thawaf dan sa’i dalam ibadah haji, dapat diganti dengan bacaan
shalawat Nabi, dalam hal ini Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda :
1. إِنَّمَا بُعِثْتُ بِالْحَنِيْفِيَّةِ السَّمْحَةِ = Sesungguhnya saya diutus dengan agama yang lapang.
2. الدِّيْن يُسْرٌ = Agama Islam itu mudah.
3. يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوا = Mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit.
2.2 Yang dimaksud dengan rational, ialah bahwa rukun-rukun Iman yang enam yaitu :
– Beriman kepada Allah.
– Beriman kepada para malaikat Allah.
– Beriman kepada kitab-kitab Allah.
– Beriman kepada para utusan Allah.
– Beriman kepada hari kiamat.
– Beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruk Allah.
Diantaranya, ada tiga pokok aqidah islamiyah yang harus berdasarkan akal fikiran yang sehat, yaitu :
2.2.1 Masalah ke-Esa-an Allah swt.
Dalam agama Islam seseorang tidak dibenarkan untuk meyakini wujud Tuhan
Allah yang Maha Esa hanya berdasarkan keterangan orang lain. Akan tetapi
keyakinan yang dimilikinya itu harus berdasarkan akal fikirannya yang
sehat atau berdasarkan dalil akal, meskipun secara global (garis besar),
misalnya: Andaikata di langit dan bumi ini ada dua Tuhan, sedangkan
masing-masing dari Tuhan tersebut memiliki kekuasaan yang penuh, niscaya
akan terjadilah pertempuran dan saling menghancurkan diantara kedua
Tuhan tersebut untuk dapat menjadi penguasa tunggal di langit dan di
bumi. Dan dengan demikian, maka seluruh benda langit dan bumi ini akan
menjadi hancur lebur. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa benda-benda
langit dan bumi ini masih dalam keadaan utuh. Jadi tidak mungkin di
langit dan di bumi ini ada dua Tuhan yang masing-masing memiliki
kekuasaan yang penuh. Andaikata di alam semesta ini ada dua Tuhan dan
keduanya bersepakat untuk mengatur alam semesta, maka pastilah
kesepakatan tersebut diambil karena kedua Tuhan itu lemah, atau salah
satunya lemah. Jika demikian maka yang bersifat lemah itu adalah bukan
Tuhan, karena tidak pantas Tuhan memiliki sifat lemah, sebab dia harus
memelihara dan mengatur alam semesta ini, dan tidak pantas pula untuk
dipuja-puja, apalagi untuk disembah.
Dan jika di alam semesta ini ada dua Tuhan yang salah satunya berupa
manusia yang dianggap sebagai anak Tuhan, seperti Nabi ‘Uzair as. yang
dianggap sebagai anak Tuhan oleh orang-orang yahudi dan seperti nabi Isa
as. yang dianggap sebagai anak Tuhan yang tunggal oleh orang-orang
nasrani, maka hal itu sama sekali tidak dapat masuk akal fikiran yang
sehat. Sebab jika sekiranya Tuhan tersebut dapat mempunyai anak yang
berwujud manusia, sedangkan manusia itu adalah ciptaannya, niscaya bisa
pula terjadi ada penjahit yang mempunyai anak berupa celana atau tukang
kayu beranak kursi. Lebih-lebih lagi jika ada orang yang beranggapan
bahwa ada manusia yang menjadi isteri Tuhan, niscaya akan ada sebuah
patung yang menjadi istri pemahatnya.
Dalam Al Qur’an surat al anbiya’ (S.21) ayat 22 Allah swt. berfirman :
لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا، فَسُبْحَانَ اللهِ رَبُّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
Artinya : “Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain
Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah
yang mempunyai ‘Arasy dari pada apa yang mereka sifatkan”.
Seorang ahli filsafat bangsa Yunani yang bernama Socrates berpendapat
bahwa melalui hukum sebab dan akibat (hukum causalita) , maka alam
semesta ini berasal dari penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh
penyebab yang lain. Penyebab pertama ini adalah Maha Esa dan itulah
Tuhan. Jadi Tuhan menurut Socrates adalah penyebab pertama (The Prime
Cause). Menurut Aristoteles, Tuhan itu bukanlah the prime cause, akan
tetapi the prime mover (penggerak pertama) yang Maha Esa, yang Maha
Sedia tanpa permulaan dan yang Maha Kekal tanpa kesudahan. Sedangkan
menurut ahli filsafat bangsa Belanda yang bernama Berkely, Tuhan itu
adalah the eternal reality (kenyataan dari hakekat wujud yang abadi) dan
Dia adalah Maha Esa.
Karena keimanan kepada Allah swt. yang harus rational adalah yang
paling pokok dalam agama Islam. Maka Nabi Besar Muhammad saw bersabda:
الدِّيْنُ هُوَ الْعَقْلُ لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ
Artinya : “Agama itu akal dan sama sekali agama itu tidak dibenarkan
bagi orang yang sama sekali tidak ada akal fikiran baginya”.
2.2.2 Ke-rasul-an Nabi Besar Muhammad saw.
Masalah ke-rasul-an Nabi Besar Muhammad saw, adalah berdasarkan akal
fikiran yang sehat. Sebab sampai sekarang belum ada seorang ahlipun yang
berani menyatakan bahwa kitab suci Al Qur’an yang menjadi mu’jizat
utama dari Nabi Besar Muhammad saw itu adalah buatan manusia. Sejak
Rasulullah Muhammad saw menyatakan bahwa bukti dari kerasulan beliau
adalah kitab suci Al Qur’an, kemudian kaum kuffar mengatakan bahwa
mereka dapat membuat untaian kalimat yang seperti Al Qur’an, maka dengan
spontan Allah swt memberikan tantangan kepada mereka, sebagaimana
tersebut dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (S.2) ayat 23-24 sebagai
berikut:
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا
فَائْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ، وَادْعُوْا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ
دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ
تَفْعَلُوا فَاتَّقُوْا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةَ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ
Artinya : “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an
yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat
(saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain
Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat
membuat (nya) dan kamu tidak mungkin dapat membuatnya, peliharalah
dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan
bagi orang-orang kafir”.
Dan kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa sejak pertama kali Al
Qur’an diturunkan sampai sekarang, mereka yang ingkar terhadap kebenaran
Al Qur’an sebagai wahyu Allah swt yang menjadi bukti dari kebenaran
ke-rasul-an Nabi Muhammad saw. Tidak seorangpun pernah mampu membuat
tandingan Al Qur’an, meskipun mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk
hal tersebut, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum orientalis
Barat.
2.2.3 Masalah konsep kehidupan sesudah mati.
Semua manusia yang hidup di dunia ini, tidak seorangpun yang mampu
menjawab tujuh macam pertanyaan meskipun dia adalah orang yang paling
genius atau brilliant atau paling cerdas otaknya.
Ketujuh macam pertanyaan itu adalah :
a. Dari mana sebelum manusia ini hidup di dunia ?
b. Mengapa manusia harus hidup di dunia ?
c. Siapa gerangan yang menghendaki kehidupan manusia di dunia ini ?
d. Untuk apa manusia harus hidup di dunia ?
e. Mengapa setelah manusia terlanjur senang hidup di dunia dia harus mati, padahal tidak seorangpun yang senang mati?
f. Siapa gerangan yang menghendaki kematian manusia ?
g. Kemana gerangan nyawa manusia setelah mati ?
Ketidak mampuan akal manusia menjawab tujuh macam pertanyaan tersebut
adalah merupakan salah satu bukti yang nyata, bahwa manusia itu
betapapun cerdas/genius/brilliant akal fikirannya, masih memiliki
tingkat kelemahan. Disamping kelemahan untuk menjawab tujuh pertanyaan
tersebut, akal manusia juga mempunyai kelemahan-kelemahan yang lain,
yaitu ketidak mampuan manusia untuk mengetahui hakekekat kebenaran yang
dapat dibuktikan dengan banyaknya teori kebenaran yang telah dikemukakan
oleh para ahli filsafat, dan ketidak mampuan manusia untuk mengetahui
hakekat dari kebahagiaan hidup yang dapat dibuktikan oleh kehidupan yang
merana dari orang-orang yang tergolong pandai.
Kelemahan akal manusia tersebut adalah bukti yang nyata bahwa manusia
hidup di dunia ini mutlak masih memerlukan petunjuk. Dan petunjuk yang
dapat dipertanggung jawabkan adalah petunjuk yang berasal dari Sang
Pencipta akal manusia itu sendiri, yaitu Tuhan yang dalam agama Islam
disebut Allah. Sedangkan petunjuk yang diberikan oleh Allah itu disebut
“Ad Din” (agama). Dan petunjuk Allah swt yang diberikan kepada Nabi
Besar Muhammad saw melalui wahyu kesemuanya telah terangkum dalam sebuah
kitab suci Al Qur’an. Dan dalam Al Qur’an inilah Allah swt menyatakan
bahwa semua manusia yang sudah mati akan dibangkitkan lagi pada hari
kiamat. Dengan demikian maka terbuktilah sudah bahwa konsep kehidupan
sesudah mati itu adalah rational.
2.3 Yang dimaksud dengan praktis, ialah bahwa seluruh isi ajaran Al
Qur’an dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap orang
Islam yang telah memahami makna yang terkandung di dalamnya, karena Al
Qur’an itu bukan teori yang sulit untuk dipraktekkan, melainkan tuntunan
dari Allah swt. yang dipergunakan untuk membimbing kehidupan manusia
hidup di dunia ini, sehingga mudah untuk dipraktekkan.
Ad.3 Agama Islam itu mempersatukan antara kehidupan jasmani dan
kehidupan rohani dan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi.
Agama Islam menuntut para pemeluknya untuk memperhatikan kepentingan
jasmaninya dan sekaligus memperhatikan kepentingan rohaniahnya dan juga
menuntut setiap muslim berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di
dunia dan juga kebahagiaan hidup di akherat.
Oleh karena itu setiap muslim diperintahkan untuk membaca do’a seperti
yang diajarkan di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (S.2) ayat 201 yang
berbunyi:
….رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةًًً وَفِي الإَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya : …Ya Tuhan kami , berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”
Setiap muslim dilarang keras untuk meninggalkan urusan duniawinya
karena menyibukkan diri dengan urusan akhirat, demikian pula sebaliknya.
Dalam hal ini Nabi Besar Muhammad saw telah bersabda :
لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لإَخِرَتِهِ وَلاَ آخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتَّى يُصِيْبَ جَمِيْعًا مِنْهُمَا
Artinya : Bukanlah yang paling baik dari kamu sekalian orang yang
meninggalkan dunianya untuk akhiratnya, dan bukan pula orang yang
meninggalkan akhiratnya untuk dunianya; sehingga dia memperoleh
keseluruhan dari keduanya (dunia akhirat).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim Nabi besar saw bersabda :
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ
الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلِّ خَيْرٍ،إِحْرَاصٍ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ،
وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلاَ تَعْجِزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ
تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ
اللهُ، وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنْ “لَوْ” تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ .
Artinya : Orang mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai
oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah. Dan pada masing-masing
terdapat kebaikan. Tamaklah engkau pada apa saja yang memberi manfa’at
engkau. Mintalah tolong kepada Allah dan jangan pesimis (merasa lemah).
Dan jika ada sesuatu yang menimpa engkau janganlah engka berkata: “
Andaikan aku melakkan begini, niscaya akan terjadi begini; akan tetapi
katakanlah “ Allah telah menentukan (mentakdirkan) dan apa yang Dia
kehendaki Dia kerjakan; karena kata “andaikata” itu membuka peluang bagi
pekerjaan syaithan”
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menetapkan bahwa orang mukmin
yang kuat itu lebih utama daripada orang mukmin yang lemah dan lebih
dicintai oleh Allah swt dan bahwa pada masing-masing keduanya terdapat
sebagian dari kebaikan, yaitu karena beriman. Kemudian Rasulullah saw
secara global menerangkan bahwa ketamakan itu terletak pada empat
faktor, yaitu :
a. tamak terhadap setiap sesuatu yang bermanfa’at.
b. Memohon pertolongan pada kekuatan Allah swt yang tidak dapat dilemahkan oleh sesuatu pun.
c. Terus-menerus menghadapi pekerjaan dengan tekun, pantang menyerah dan tanpa merasa lemah (pesimis).
d. Sabar pada waktu tertimpa musibah tanpa membiarkan dirinya
dipermainkan oleh angan–angan dan tidak tunduk pada godaan syaithan.
Ad. a. Faktor yang pertama menuntut setiap mukmin untuk sadar
terhadap setiap kesempatan yang dapat dipergunakan dan diambil
faedahnya. Setiap sesuatu yang memberi manfaat orang mukmin dalam
kehidupan di dunia ini dan kehidupan di akhirat, wajib terhadap setiap
mukmin untuk tamak terhadapnya dan bekerja keras untuk mendapatkannya.
Terhadap harta, wajib bagi setiap mukmin untuk mengusahakannya dari jalan yang halal.
Terhadap pangkat, wajib bagi setiap mukmin untuk mengerahkan kemampuannya guna mencapainya dengan cara yang wajar dan baik.
Terhadap ilmu-ilmu pengetahuan yang bermacam-macam yang dapat
dipergunakan untuk memajukan alam dan mempersiapkan sarana-sarana
kehidupan yang mulia bagi manusia, seperti ilmu kedokteran, teknik, dan
pendidikan misalnya, maka wajib bagi semua orang mukmin untuk tidak
menyimpan kemampuannya dalam mempelajari dan mengabdinya.
Terhadap akhlak-akhlak yang mulia yang dapat diperoleh dengan ujian,
mengekang nafsu dan bersabar, maka wajib bagi orang-orang mukmin untuk
memperoleh bagian yang terbesar.
Terhadap agama dan ilmu agama, maka jelas setiap mukmin wajib
menyangatkan ketamakannya untuk menjadi bekal kehidupannya di akhirat,
dan harus bekerja dengan sekuat tenaga untuk mengambil faedah dari
ilmu-ilmu agama tersebut bagi kehidupannya di dunia, karena ilmu-ilmu
agama tersebut dapat mendidik jiwa, membangkitkan semangat dan
mempertajam hati.
Ad.b. Faktor yang kedua, yaitu memohon pertolongan Allah, adalah
menyadarkan setiap mukmin terhadap pekerjaan yang tidak menyibukkan
dirinya dari mengingat Allah; bahkan pekerjaan itu lebih pantas untuk
menyibukkan dirinya mengingat Tuhannya. Sebab setiap kali seseorang
mu’min menekuni sesuatu pekerjaan, maka akan tersingkap baginya bahwa
kemampuannya sebagai manusia adalah terbatas dan bahwa kekuatannya jauh
berkurang untuk mencapai cita-citanya. Jadi tidak boleh tidak dia harus
mendapatkan pertolongan dan bantuan Allah swt., yang dapat menuntunnya,
menunjukkan jalannya dan memberinya kesabaran dan menekuni pekerjaannya,
agar dapat sampai kepada apa yang diinginkan keberhasilan dari
cita-citanya berkat pekerjaan dan jerih payahnya; sehingga betapapun
banyak rintangan yang dihadapinya, tidak akan dapat menghalanginya.
Oleh karena setiap mukmin selalu memerlukan pertolongan Allah inilah,
maka Allah swt memerintahkan kepada kita sekalian untk membaca pada
setiap raka’at dari setiap shalat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ Hanya kepadamu kami
menyembah dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan . dan Allah
memerintahkan orang-orang mu’min yang sedang berperang melawan musuh
untuk mengingat Tuhan mereka , bahkan agar lebih banyak mengingatNya.
Dalam surat Al Anfal (S.8) ayat 45, Allah swt telah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوا إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَأَثْبَتُوْا, وَاذْكُرُ اللهَ كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi
pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah
sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung”
Ad.c. Untuk faktor yang ketiga ini, kami ketengahkan sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh sahabat Anas Bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw.
dalam do’a beliau selalu mengcapkan :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
“Ya Allah sesungguhnya hamba memohon perlindungan kepadamu dari sifat pesimis, malas, licik dan kikir”.
Dari do’a Rasulullah saw tersebut dapat diambil pengertian bahwa
agama Islam itu membenci sifat malas, memerangi sifat berpura-pura
tawakkal (tawakkal = berserah diri kepada Allah) dan tidak rela apabila
orang m’min itu menjadi lemah sehingga dihina orang lain atau menjadi
pemalas sehingga dia minta-minta kepada orang lain atau menjadi
penganggur sehingga menjadi orang yang tidak berguna, padahal orang
m’min itu seharusnya melebihi orang lain, menjadi orang yang kaya dan
orang yang mulia .
Ad.d . Faktor yang keempat adalah menutup pintu lamunan dan
angan-angan yang batal, karena orang mu’min itu wajib menyiapkan dirinya
untuk kehidupan di hari esok dan bukan untuk hari kemarin. Dan
hendaklah orang m’min itu mengerjakan pekerjaan yang sedang dihadapi dan
jangan menjadi orang yang bermimpi dan tertipu oleh angan-angan dan
lamunan. Jika setiap mansia dalam kehidupan di dunai ini kadang-kadang
dihadapkan kepada kegagalan dari usahanya dan pada suatu ketika menjadi
sasaran dari kejadian-kejadian, maka hendaklah dia menghadapi apa yang
merintangi jalannya dengan jiwa mu’min yang sejati, yaitu menyadari
bahwa rintangan tersebut adalah sudah menjadi ketentuan dan kehendak
Allah yang tidak dapat dielakkan kejadiannya, sehingga dia harus
mengulangi bekerja dan berusaha dengan keyakinan akan sampai pada
sasaran tujuannya.
Sesungguhnya setiap mukmin itu wajib memiliki keyakinan bahwa
ketentuan Allah swt. itu tidak mungkin berubah seandainya mengerjakan
selain apa yang telah dikerjakan. Misalnya : Penyakit yang menjadi sebab
kematiannya adalah tidak mungkin dapat sembuh andaikata ada dokter lain
yang mengobati. Putusan pengadilan yang merugikan dirinya adalah tidak
mungkin membawa keberuntungannya andaikata ada seorang pembela yang
masyhur yang membela. Jika demikian, maka tidaklah bijaksana, bahkan
tidak benar apabila ia mengatakan : “ Andaikata perkara itu demikian,
niscaya akan terjadi demikian. Yang bijaksana adalah jika dia
meninggalkan apa yang sudah terjadi agar perhatiannya sepenuhnya dapat
ditujukan kepada apa yang akan terjadi, seluruh kemampuannya dikerahkan
untuk bekerja, sehingga apa yang telah lewat tidak menjerumuskannya
dalam jurang penyesalan dan tidak mengajaknya bercumbu rayu dengan
syaithan dalam lamunan yang tidak membuahkan kecuai penyesalan yang
sia-sia dan kesibukan hati dengan hal-hal yang tidak berfaedah serta
menyia-nyiakan waktu dalam hal-hal yang tidak membuatnya kaya.
Friday, 13 October 2017
Thursday, 12 October 2017
AHLAK DALAM ISLAM
PENGERTIAN AKHLAK
Sementara kata akhlak (bahasa Arab), secara etimologis, adalah bentuk jamak dari kata khuluq. Khuluq di dalam Kamus al-Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, dan tabiat. Akhlaq berakar dari kata kha-la-qa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq yang berarti yang diciptakan dan khalq yang berarti penciptaan.
Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlaq tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan) dengan prilaku makhluq (manusia). Atau dengan kata lain, tata prilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkunganya baru mengandung nilai akhlaq yang hakiki manakala tindakan atau prilaku tersebut didasarkan kepada kehendak Khaliq (Tuhan). Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlaq bukan saja merupakan tata aturan atau morma prilaku yang mengatur hubungan antara sesama manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.
Sedangkan secara istilah, banyak ulama mendefinisikan pengertian akhlak diantaranya adalah sebagai berikut:
Imam al-Ghazali :
الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها تصدر الافعال بسهولة ويسر من غير حاجة الي فكر و رؤية.
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
perbuatan-perbuaatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan”.Ibnu maskawih :
“ Akhlak adalah gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tidak membutuhkan pikiran”.
Ahmad amin :
“Akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
Disamping akhlak, moral dan etika juga sama-sama menentukan nilai baik dan buruk seseorang. Bedanya akhlak mempunyai standar ajaranyang bersumber kepada al-Qur’an dan sunnah Rasul, etika berstandarkan akal pikiran sedangkan moral berstandarkan adat atau kebiasaan yang terdapat didalam masyarakat.”
Ibrahim Anis:
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”.
Abdul karim Zaidan:
“Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatanya baik atau buruk untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkanya”.
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perbuatan manusia baru disebut akhlak kalau terpenuhi dua syarat, yaitu:
Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau perbuatan itu hanya dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, pada suatu ketika, orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang atau bantuan kepada orang lain, karena alasan tertentu. Dengan tindakan ini ia tidak dapat disebutorang yang murah hati atau disebut sebagai orang berakhlak dermawan. Karena hal itu tidak melekat pada jiwanya. Lebih jauh tentang keterulangan perbuatan manusia, yang selanjutnya disebut akhlak, Ahmad Amin dalam bukunya al-Akhlak menyatakan bahwa pada dasarnya akhlak itu adalah membiasakan kehendak (‘adah al-iradah). Kata membiasakan disini dipahami dalam pengertian melakukan sesuatu secara berulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan (‘adah). Adapun yang dimaksud dengan kehendak (iradah) adalah menangnya keinginan untuk melakukan sesuatu setelah mengalami kebimbangan untuk menentukan pilihan terbaik di antara beberapa alternatif. Apabila iradah sering terjadi pada seseorang, maka akan terbentuk pola yang baku, sehingga selanjutnya tidak perlu membuat pertimbangan-pertimbangan lagi, melainkan secara langsung melakukan tindakan yang telah dilaksanakan tersebut.
Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikir atau diteliti terlebih dahulu sehingga benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau setelah difikir dan dipertimbangkan terlebih dahulu secara matang, tidak disebut akhlak. Ada dua hal yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur kebiasaan: (1) ada kecenderungan hati padanya, (2) ada pengulangan yang cukup banyak, sehingga mudah mengerjakanya tanpa memerlukan fikiran lagi.
Selanjutnya, kesan yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa istilah akhlak itu bersifat netral, belum menunjukan kepada baik dan buruk. Namun demikian, apabila istilah akhlak itu disebut sendirian, tidak dirangkai dengan sifat tertentu, maka yang dimaksud adalah akhlak yang mulia. Misalnya bila seseorang berlaku tidak sopan kita mengatakan kepadanya: “Kamu tidak berakhlak”. Maksudnya adalah “kamu tidak memiliki akhlak mulia”, dalam hal ini sopan santun.
Pembagian Akhlak
Ada siang dan malam, ada hujan dan panas, ada laki-laki dan perempuan, ada ahklak mahmudah dan mazmumah dan sebagainya.
- akhlak mahmudah
- Sabar, adalah mampu menahan diri atau mampu mengendalikan amarah.
- Ikhlas, adalah mengejakan sesuatu amal hanya semata-mata karena Allah, yakni harus mengharap ridhoNya.
- Jujur, adalah mengatakan sesuatu itu dengan apa adanya dan harus dengan hati yang lurus.
- Pemaaf, adalah orang yang memberikan maaf kepada peminta maaf yang menyadari kesalahannya.
- Pemurah, adalah sikap seseorang yang ringan untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain,
- Menepati janji, adalah orang yang datang ketempat yang sudah disepakati sebelumnya.
- akhlak mazmumah
- Ujub dan Takabur
- Ria dan Sum’ah
- Malas dan Tamak
- Dendam dan Iri hati
- Fitnah dan Penipuan
- Bohong dan Khianat
- Bakhil dan Takut miskin
KEDUDUKAN DAN KEISTIMEWAAN AKHLAK DALAM ISLAM
1.Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai misi pokok risalah Islam.2.Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok Islam
3.akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan sesorang nanti pada hari kiamat
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ
الْفَاحِشَ رواه الترمذي وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
4.Rasulullah menjadikan baik buruknya akhlak seseorangsebagai ukuran kualitas imanya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا
أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
رواه الترمذي هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
5.Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada allah SWT.Lihat nash tentang shalat puasa dan haji6.Nabi Muhammad SAW selalu berdo’aagar Allah SWT membaikan akhlak beliau.
7.di dalam al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak.
CIRI-CIRI AKHLAK DALAM ISLAM
Yang dimaksud karakteristik akhlak islam adalah ciri-ciri khusus yang ada dalam akhlak islam. ciri-ciri khusus ini yang membedakan dengan akhlak wadli’iyah atau akhlak yang diciptakan oleh manusia, atau hasil consensus manusia dalam menentukan baik dan buruknya perbuatan, yang disebut moral.
Akhlak nabi Muhammad saw adalah akhlak islam, karena ia bersumber pada al-Qur’an yang datang dari Allah swt. Al-qur’an sendiri diyakini memiliki kebenaran mutlak, tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, berlaku sepanjang masa dan untuk semua manusia. Oleh karena itu akhlak islam memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
Kebaikanya bersifat mutlak (al-khairiyah al-muthlaqah) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam merupakan kebaikan murni, baik untuk individu maupun untuk masyarakat luas, kapanpun dan dimanapun.
Kebaikanya bersifat menyeluruh (al-shalahiyah al-‘ammah). Yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan di semua tempat.
Tetap, langeng, dan mantap, yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya bersifat tetap, tidak berubah oleh perubahan waktu, tempat dan perubahan kehidupan manusia.
Kewajiban yang harus dipatuhi (al-ilzamul mustajab), yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan hukum yang harus dilaksanakan, sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang-orang yang tidak melaksanakan.
Pengawasan yang menyeluruh (ar-raqabah al-muhithah), yaitu allah yang memiliki sifat maha mengetahui seluruh isi alam semesta, dan apa yang dilahirkan dan disembunyikan oleh manusia, maka perbuatan manusia selalu diawasi dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan. Tidak ada sekecil dzarrah-pun yang lepas dari pengawasan Allah SWT.
Berpijak dari lima ciri-ciri akhlak Islam di atas, Ahmad Azhar basyir merinci kembali melalui lima dengan istilah: (1) Akhlak rabbani; (2) Akhlak manusiawi; (3) Akhlak universal; (4) Akhlak keseimbangan; dan (5) Akhlak realistic.
1.Akhlak Rabbani (Al-Akhlaq Al-Rabbaniyyah)
Akhlak rabbani (al-Akhlaq al-Rabbaniyyah), yaitu akhlak dalam Islam itu bersumber kepada wahyu Allah yang termaktub di dalam al-qur’an dan as-sunnah al-nabawuyah. Dalam al-qur’an dijelaskan bahwa tujuan para rasul allah ialah mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan (rabaniyah), yaitu masyarakat yang para anggotanya dijiwa oleh semangat mencapai ridha allah, melalui perbuatan baik bagi sesamanya dan kepada seluruh makhluk.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ
وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي
مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ
تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al
Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah
kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi
(dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu
selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
(QS Ali Imron (3): 79)Makna “rabbaniyah” itu sendiri sama dengan “berkeimanan” dan “berketakwaan” atau lebih sederhana dapat dikatakan “beriman dan bertakwa”. Oleh karena iman dan takwa adalah fondasi dari ajaran Islam bagi kehidupan manusia, maka akhlak rabbaniyah itu adalah akhlak yang bernilai bagi perwujudan dari iman maupuntakwa. Perwujudan ini dalam bentuk sikap,pandangan hidup dan perbuatan nyata yang sesuai dengan nilai-nilai rabbanuyah.
Ciri Rabbani dalam akhlak Islam bukanlah moral yang tradisional dan situasional, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai mutlak. Akhlak Rabbani mampu menghindari kekacauan nilai moralitas dalam kehidupan manusia.
Al Qur’an mengajarkan, « Inilah jalan-Ku yang lurus, hendaklah kamu mengikutinya, jangn kamu ikuti jalan-jalan lain, sehingga kamu bercerai berai dari jalan-Nya. Demikian yang diperintahkan kepadamu, agar kamu bertaqwa. » (Q.S. Al An’am: 153)
2.Akhlak Manusiawi (Al-Akhlaq Al-Insaniyyah)
Akhlak manusiawi (al-akhlaq al-Insaniyyah), yaitu bahwa ajaran akhlak islam selalu sejalan dan memenuhi kebutuhan fitrah manusia. Salah satu fitrah manusia adalah memihak kepada kebaikan dan kebenaran, walaupun sering pemihakanya itu bertentangan dengan lingkungan dan hasrat nafsunya. Kalau ada seseorang yang mengikuti hawa nafsunya saja, dan memihak kepada kebenaran “semu”, hasil rekayasa tangan dan otak jahil manusia, sesungguhnya ini bertentangan dengan hati nuraninya yang memihak kepada kebenaran hakiki. Fitrah yang dibawa manusia sejak lahir tidak dapat dilawan, ditolak, dan direkayasa, ia akan selalu membawa kepada ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. Dimanapun orang berbuat maksiat, akan selalu dihantui rasa bersalah, berdosa, dan tidak pernah tenteram. Hal ini karena bertentangan dengan fitrah kebenaran yang ada di dalam dirinya sendiri.
Akhlak Islam selalu menuntun untuk berbuat yang baik, memihak kepada kebenaran, dan media untuk menca[ai kebahagiaan yang hakik. Akhlak islam benar-benar menjaga dan memlihara keberadaan manusia sebagai makhluk yang terhormat, terpuji sesuai dengan fitrahnya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ
الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS ar-Rum(3): 30).3.Akhlak Universal (Al-Akhlaq Al-Syamilah)
Akhlak universal (Al-Akhlaq al-syamilah), maksudnya adalah bahwa akhlak Islam itu bersifat universal dan sempurna, siapapun yang melaksanakan akhlak islam dijamin akan selamat. Contohnya al-Quran menyebutkan sepuluh macam keburukan yang wajib dijauhi oleh setiap orang, yakni :
- Menyekutukan Allah,
- Durhaka kepada kedua orang tanpa alasan yang sah,
- Membunuh anak karena takut miskin,
- Berbuat keji baik secara terbuka maupun tersembunyi,
- Membunuh orang tanpa alasan yang sah,
- Makan harta anak yatim,
- Mengurangi takaran dan timbangan,
- Membebani orang lain dengan kewajiban melampaui kekuatannya,
- Persaksian tidak adil,
- Mengkhianati janji dengan Allah (Qs, al-An’am, 6:151-152).
Akhlak Islam itu telah sempurna, sebagaiman kesempurnaan ajaran Islam itu sendiri. Hal ini dapat dilihat bahwa Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku kepada allah, melaiknkan juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam sekitarnya. Apabila hubungan segitiga, yakni kepada Allah, sesama manusia dan alam telah terjalin dengan baik, maka dijamin terciptanya kehidupan yang harmonis, bahagia, dan damai, baik secara spiritual maupun material.
4.Akhlak Keseimbangan (Al-Akhlaq At-Tawazun)
Manusia memilki naluriyah hewaniyah dan naluriyah ruhaniyah malaikah. Dua naluri tersebut harus dibimbing oleh akhlak islam su[aya tetap berada dalam keseimbangan. Naluriyah hewaniyah tidak dapat dipisahkan dari jasad manusia, melainkan harus diarahkan untuk disalutkan sesuai dengan prosedur dan aturan-aturan dalam Islam. manusia adalah makhluk yang berakal, bermartabat dan terhormat, kalau terus berada dan mengembangkan fitrah religiusitasnya. Namun manusia dapat meluncur ke tingkat yang paling rendah, hina dina bagaikan hewan, kalau tidak dapat menjaga fitrah bahkan melawanfitrah tersebut, dengan selalu berbuat nista. Akhlak Islam menjaga manusia agar selalu berada pada tingkat kemanusiaan dan menuntun kepada kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat. QS Al-baqarah(2): 201.
5.Akhlak Realistic (Al-Akhlaq Al-Waqi’iyyah)
Akhlak realistic (al-Akhlaq al-Waqi’iyyah), yaitu akhlak Islam memperhatikan kenyataan (realitas) hidup manusia. Manusia memang makhluk yang sempurna, memilki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan makhluk ciptaan allah lainya, tetapi manusia juga memiliki kelemahan-kelemahan. Ini adalah realitas bagi manisia, karena tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Satu sisi ada kelebihan, dan di sisi lain ada kelemahan. Kerja sama, tolong ,emolong adalah suatu bentuk kesadaran manusia bahwa dalam dirinya ada kelemahan dan kebaikan.
Untuk itulah akhlak Islam mengajarkan untuk menghargai dan menghormati orang lain, melakukan kerja sama atau saling kenal mengenal, kontak komunikasi dengan suku dan bangsa lain. Adalah kesombongan kalau ada orang yang mengatakan bahwa ia mampu hidup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan jasa orang lain. Ia tidak sadar, bahwa pakaian, kaca mata, sepatu, topi, ikat pinggang yang menempel setiap saat di tubuhnya, dan makanan, minuman, buah-buahan yang disantap setiap hari adalah bagian dan hasil jasa orang lain. Tiap orang tidak akan mampu menyediakan kebutuhan hidup dengan tangannya sendiri.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا
تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ
اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya”.(QS Al-Maidah (5):3).Selain itu, akhlak islam juga realistis adalah bahwa allah tidak akan memberi beban kesanggipan kepada manusia di luar kemampuanya. Allah tidak egois dan memaksa kepada manusia, justru allah melihat kenyataan yang ada. Kalau memang manusia tidak sanggup melaksanakan perintah-perintah sesuai dengan aturan dan ketetapan yang telah ditetapkan secara rinci, manusia diberi kebebasan untuk mengambil keringanan (rukhsah) yang telah diberikan. Misalkan manusia boleh marah kepada orang lain yang berbuat tidak baik kepadanya, namun apabila memaafkan itu lebih baik. Perbuatan memberi maaf baik diminta ataupun tidak diminta adalah perbuatan yang mulia. Manusia sesungguhnya memilki kemampuan untuk memaafkan orang lain, karena Allah telah mengukur kemampuan yang dimiliki oleh manusia.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya
dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS
Al-baqarah (2): 286).
Ruang Lingkup Akhlaq
Adapun ruang lingkup akhlaq menurut Abdullah Draz ada lima bagian yaitu :- Akhlaq pribadi terdiri dari Yang diperintahkan, yang dilarang, yang dibolehkan dan Akhlaq dalam keadaan darurat
- Akhlaq berkeluarga terdiri dari Kewajiban timbal balik antara orang dengan anak, kewajiban sumai dengan istri dan kewajiban terhadap karib kerabat.
- Akhlaq bermasyarakat terdiri dari Yang dilarang yang iperintahkan dan Kaedah-kaedah adab.
- Akhlaq bernegara terdiri dari Hubungan antara pimpinan dan rakyat dan hubungan luar negeri.
- Akhlaq beragama yaitu kewajiban terhadap Allah SWT.
- Akhlaq terhadap Allah SWT.
- Akhlaq terhadap Rasulullah SAW.
- Akhlaq pribadi
- Akhlaq dalam keluarga
- Akhlaq bermasyarakat dan
- Akhlaq bernegara
Rasulullah SAW. Menempatkan penyempurnaan akhlaq, yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam, sebagai sabdanya :“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. (HR. Baihaqi). Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam, sehingga Rasulullah pernah mendefinisikan agam dengan akhlaq yang baik, sebagaimana sabda beliau.Terjemahannya :
“Ya Rasulullah, apakah agama itu ? beliau menjawab : agama itu adalah akhlak yang baik”.
Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah SAW. Menjadikan baik buruknya akhlaw seseorang sebagau ukuran kualitasnya. Islam menjadikan akhlaw baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT.Nabi Muhammad SAW. Selalu berdoa agar Allah SWT. Membaikkan akhlaq beliau.
Perbuatan Baik dan Buruk
Yang dimaksud perbuatan baik adalah :- Sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan
- Sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya.
- Sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang memberikan kepuasan
- Sesuatu dengan sesuai dengan keinginan yang bersifat berfitrah
- Sesuatu hal yang dikatakan baik, bila ia mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia.
- Sesuatu yang tidak baik, tidak seperti seharusnya, tidak sempurna dalam kualitas, di bawah standart, kurang dalam nilai dan tidak mencukupi.
- Sesuatu yang keji, jahat, tidak bermoral dan tidak menyenangkan
- Adalah segala sesuatu yang tercela, karena melanggar norma-norma atau aturan-aturan menurut yang ditetapkan oleh syara’ (agama).
Ukuran Baik dan Buruk
Persepsi Manusia Tentang Baik dan BurukBanyak orang yang berselisih pendapat untuk menilai suatu perbuatan, ada yang melihatnya baik dan ada yang melihatnya buruk. Dipandang baik oleh suatu masyarakat atau bangsa dipandang buruk yang lain. Dipandang baik pada waktu ini dinilai buruk pada waktu yang lain.
Selanjutnya dalam menetapkan nilai perbuatan manusia, selain memperhatikan nilai yang mendasarinya, kriteria lain yang harus diperhatikan adalah cara melakukan perbuatan itu. Meskipun seseorang mempunyai niat baik, tetapi lakukan dengan cara yang salah, dia dinilai tercela karena salah melakukannya, bukan tercela karena niatnya. Kadang-kadang tercelanya manusia itu dapat berpangkal dari keyakinan yang salah, bukan karena niatnya.
Tingkah laku manusia dapat diketahui bahwa element-element pokok yang perlu diperhatikan padanya adalah :
- Kehendak (Karsa), yakni sesuatu yang mendorong yang ada di dalam jiwa manusia.
- Manifestasi dari kehendak, yaitu cara dalam merealisir kehendak tersebut. Barangkali hal ini dapat disamakan dengan ungkapan karya, yakni perbuatan dalam mewujudkan karsa tadi. Kalau karsa dan karya menjadi satu, maka bisa dipastikan adanya aktivitas yang tidak kecil artinya.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan oramg-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan perndapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebi utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya”.
Tujuan Akhlak
Tujuan akhlak adalah1. untuk membentuk pribadi muslim,
2. bertingkah laku yang baik demi meningkatkan derajat kehidupan manusia,
3. menyempurnakan keimanan
4. sebagai pengatur cara hidup berkeluarga dan bertetangga
5. mengatur adab pergaulan berbangsa dan bernegara.
Jadi mempelajari ilmu akhlak bukanlah sekedar untuk mengetahui mana akhlak baik dan buruk, akan tetapi tang penting adalh, mengamalkan dan menerapkan akhlak yang luhur itu dalam kehidupan sehari-hari, sesuai tuntutan ajaran Islam.
Subscribe to:
Posts (Atom)