Tuesday, 26 September 2017

FUNGSI MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI



ALLAH SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi dari  setiap elemen alam ini. Mata hari punya fungsi, bumi punya fungsi, udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Pertanyaan kita adalah apa sebenarnya fungsi manusia dalam pentas kehidupan ini? Apakah sama fungsinya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan? atau mempunyai fungsi yang lebih istimewa ?
Bagi seorang atheis, manusia tak lebih dari fenomena alam seperti makhluk yang lain. Oleh karena itu, manusia menurut mereka hadir di muka bumi secara alamiah dan akan hilang secara alamiah. Apa yang dialami manusia, seperti peperangan dan bencana alam yang menyebabkan banyak orang mati, adalah tak lebih sebagai peristiwa alam yang tidak perlu diambil pelajaran atau dihubungkan dengan kejahatan dan dosa, karena dibalik kehidupan ini tidak ada apa-apa, tidak ada Tuhan yang mengatur, tidak ada sorga atau neraka, seluruh kehidupan adalah peristiwa alam. Bagi orang atheis fungsi manusia tak berbeda dengan fungsi hewan atau tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai bagian dari alam.
Bagi orang yang menganut faham sekuler, manusia adalah pemilik alam yang boleh mengunakannya sesuai dengan keperluan. Manusia berhak mengatur tata kehidupan di dunia ini sesuai dengan apa yang dipandang perlu, dipandang baik dan masuk akal karena manusia memiliki akal yang bisa mengatur diri sendiri dan memutuskan apa yang dipandang perlu. Mungkin dunia dan manusia diciptakan oleh Tuhan, tetapi kehidupan dunia adalah urusan manusia, yang tidak perlu dicampuri oleh agama. Agama adalah urusan individu setiap orang yang tidak perlu dicampuri oleh orang lain apa lagi oleh negara.
Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.
Fungsi Khalifah
Pada  dasarnya,  akhlak  yang  diajarkan   Alquran   terhadap lingkungan bersumber dari fungi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan  menuntut  adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan  mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam  pandangan  akhlak Islam,  seseorang  tidak  dibenarkan mengambil  buah  sebelum  matang,  atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Karena itu dalam Alquran ditegaskan bahwa :
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan  burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan  umat-umat (juga)  seperti manusia...”  (QS. Al-An’am  [6] : 38)
Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran  bahwa  apapun  yang  berada  di  dalam  genggaman tangannya,   tidak lain   kecuali    amanat    yang    harus dipertanggungjawabkan. “Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin yang berhembus di udara,  dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawabannya, manusia menyangkut pemeliharaan  dan pemanfaatannya”, demikian   kandungan  penjelasan  Nabi  Saw. tentang firman-Nya dalam Alquran
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kemikmatan (yang  kamu  peroleh).” (At-Takatsur, [102]:  8)
Dengan demikian  manusia bukan  saja  dituntut  agar tidak  alpa  dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antara keduanya, kecuali dengan (tujuan) yang hak dan pada waktu yang ditentukan” (QS Al-Ahqaf [46]: 3).
Pernyataan Allah ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan  kepentingan  diri  sendiri,  kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus  berpikir  dan bersikap  demi  kemaslahatan  semua pihak.  Ia  tidak  boleh bersikap  sebagai penakluk alam  atau  berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang,  istilah  penaklukan  alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani  yang beranggapan bahwa  benda-benda  alam  merupakan dewa-dewa yang memusuhi  manusia sehingga harus ditaklukkan.
Yang menundukkan alam menurut Alquran adalah  Allah.  Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 13)
Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya  tunduk  kepada  Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat. Aquran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad Saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad Saw. bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.
Ini berarti bahwa manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak  boleh  tunduk  dan merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak  oleh  benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda sehingga  mengorbankan kepentingannya sendiri. Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apapun  asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya tidak mengorbankan kepentingannya di akhirat kelak.
Memanfaatkan Segala Potensi
Manusia merupakan khalifah di bumi ini, diciptakan oleh Allah dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan yang menyertainya. Kita diberi akal pikiran dan juga hawa nafsu sebagai pelengkapnya. Manusia telah diberikan berbagai fasilitas di muka bumi sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia. Semua yang kita perlukan telah terhampar di alam semesta, manusia hanya perlu mengelolanya saja.
Dalam kelangsungan hidup manusia terjadi berbagai perkembangan di dunia, semakin kompleksnya kebutuhan manusia, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan terciptanya berbagai mesin-mesin dan berbagai alat komunikasi yang membantu meringankan kehidupan dan pekerjaan manusia. Didorong dengan nafsu keserakahannya, manusia hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, negara hanya berpikir untuk memajukan perekonomian dan pembangunan besar-besaran diberbagai sektor, tanpa memikirkan dampak lingkungan yang diakibatkan dari apa yang dilakukan manusia. Termasuk penduduk Indonesia perilakunya juga seperti itu, bisa dikatakan kepeduliannya sangat kecil terhadap lingkungan, ini tidak lepas dari tingkat kesadaran masyarakat dan juga desakan ekonomi yang juga menuntut masyarakat berusaha untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang diakibatkan.
Kegiatan manusia di dunia ini banyak menimbulkan masalah bagi lingkungan, erosi tanah, polusi udara, banjir, tanah longsor, tanah yang hilang kesuburannya, hilangnya spesies-spesies dalam ekosistem, kekeringan, hilangnya biota-biota laut dan yang paling memprihatinkan adalah pemanasan suhu global, yaitu peristiwa pemanasan bumi yang disebabkan oleh peningkatan ERK (Efek Rumah Kaca) yang disebabkan oleh gas rumah kaca (GRK), seperti CO2, CH4, Sulfur dan lain-lain yang menyerap sinar panas atau menyebabkan terperangkapnya panas matahari (sinar infra merah). ERK (greenhouse effect) bukan berarti disebabkan oleh bangunan-bangunan yang berdinding kaca, tapi hanya merupakan istilah yang berasal dari para petani di daerah iklim sedang yang menanam tanaman di rumah kaca.
Global Warming sangat perlu diperhatikan oleh seluruh penduduk dunia, dan termasuk didalamnya penduduk Indonesia, dengan bersinergi menurunkan dan memperlambat peningkatan greenhouse effect. Langkah-langkah nyata harus dilakukan oleh masyarakat, karena sangat besarnya dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain yang hidup di bumi.
Kita ketahui Indonesia merupakan negara maritim. Pemanasan global yang saat ini terjadi akan memicu naiknya suhu atmosfer bumi, dan akan menaikkan permukaaan air laut, yang juga didukung oleh pencairan es di kutub bumi. Hal ini dapat memicu tenggelamnya negara kita, didahului dengan tenggelamnya ribuan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia. Kalau pemanasan global tidak cepat ditanggulangi dan membiarkan kegiatan-kegiatan manusia yang tidak ramah dengan lingkungan, mungkin beberapa abad lagi negara kita akan tenggelam dan berakhirlah peradaban manusia di dunia.
Seiring pertumbuhan penduduk yang cenderung tidak dapat dikendalikan dan selalu menunjukkan peningkatan. Hal ini juga terjadi di Indonesia, akan memicu naiknya kebutuhan-kebutuhan manusia seperti pangan, tempat tinggal, listrik, BBM dan banyak kebutuhan lainnya. Kesemuanya itu akan meningkatkan kebutuhan manusia akan lahan-lahan yang digunakan untuk produksi pertanian, perkebunan, pertambangan, tempat tinggal, jalan-jalan dan fasilitas umum. Hal ini tidak bisa dipungkiri, dan akhirnya terjadilah penebangan pohon-pohon dan hutan untuk memenuhi kebutuhan untuk bahan baku industri tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang akan diderita.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan ummat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Allah untuk manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang. ***

Monday, 25 September 2017

AL-QURAN DAN CIRI-CIRI ORANG-ORANG BERTAQWA

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

Alif Laam Miim.(1) Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(2) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,(3) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.(4) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.(5)

URAIAN AYAT

Surat Al-Baqarah termasuk surat yang pertama-tama diturunkan sesudah hijrah dan merupakan surat yang paling panjang dalam Al-Quran. Menurut pendapat yang terkuat, ayat-ayat surat ini tidaklah diturunkan sampai selesai sebelum turun ayat-ayat dari surat lain. Dengan meneliti sebab-sebab turunnya beberapa ayat ini dan ayat-ayat dari surat Madaniyah lain – walaupun sebab-sebab itu bukanlah sebab yang pasti – menunjukkan bahwa ayat-ayat itu tidaklah diturunkan secara beruntun; tetapi beberapa ayat dari surat yang berikutnya sudah diturunkan sebelum surat yang terdahulu selesai. Adapun di dalam menentukan urutan surat, yang menjadi pegangan adalah turunnya ayat-ayat pertama dari surat; bukan seluruh ayat. Maka dalam surat Al-Baqarah ini kita jumpai ayat-ayat yang diturunkan di penghujung turunnya Al-Quran, seperti ayat riba. Sedangkan ayat dipermulaan surat menurut pendapat yang terkuat adalah ayat yang pertama turun di Medinah.

Ayat pertama dimulai dengan:

الم (1)
Alif Laam Miim.(1)

Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian surat-surat Al-Quran seperti; alif lam mim, alif lam raa, alif lam mim shad dan sebagainya.

Di antara ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang masuk ayat-ayat mutasyaabihaat dan ada pula yang menafsirkannya.

Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al-Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al-Quran diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al-Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad SAW semata, maka cobalah mereka buat semacam Al-Quran ini.

Mukjizat Al-Quran ini sama saja dengan mukjizat semua ciptaan Allah, sama saja dengan membandingkan ciptaan Allah SWT dengan buatan manusia. Lihatlah tanah yang tersusun indah dari partikel-partikel dan telah dikenal ciri dan sifatnya. Jika manusia mengambil partikel-partikel ini, paling-paling manusia mampu membentuknya menjadi lempengan atau batu bata, atau mangkok, bangunan atau alat-alat dengan bentuk yang rapi… Tetapi Allah Maha Pencipta, menjadikan pertikel-partikel itu penuh gerak. Semuanya menyimpan mukjizat Ilahi… rahasia hidup, rahasia yang tidak kenal manusia.

Demikian pula dengan Al-Quran… manusia dapat merangkai huruf dan kata-kata menjadi kalimat, prosa dan syair; tetapi Allah menjadikan Al-Quran dan Al-Furqan… Maka perbedaan antara buatan manusia dengan ciptaan Allah dalam susunan huruf dan kata-kata ini adalah seperti perbedaan antara tubuh yang kaku dengan roh yang hidup; perbedaan antara bentuk hidup dengan hakikat hidup.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya;

Telah nyata manusia tidak berdaya untuk menyusun huruf dan kata-kata seperti Al-Quran ini, lalu dari mana datangnya keraguan?

Al-Quran berulangkali menantang manusia yang meragukannya untuk menyusun huruf seperti Al-Quran, atau sepuluh surat, atau hanya satu surat saja. Namun sampai sekarang tidak ada seorang manusiapun yang sanggup menjawab tantangan ini.

هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)
petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(2)

Al-Quran adalah petunjuk hidup, cahaya dan pengarah yang gamblang. Dengan itu manusia akan terhindar dari bahaya kesesatan dan mantap menjalani kehidupan menuju tujuan sejati.

Tetapi tidak semua orang yang mampu memahami dan mengamalkan petunjuk Al-Quran ini… Ia adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa…

Taqwa bukan hanya sebatas pengertian "takut" belaka…Taqwa adalah membuka pintu hati sehingga sinar Al-Quran masuk ke dalamnya… Taqwa mempersiapkan hati untuk menggapai petunjuk… Taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Selanjutnya diterangkan ciri-ciri orang-orang yang bertaqwa:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,

Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa; dan ditandai oleh kemauan untuk mengerjakan apa yang dikehendaki iman; tanpa demikian sama sekali bukanlah iman.

Sedangkan "yang ghaib" ialah yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera…

Orang yang bertaqwa percaya kepada yang ghaib, yakni; meyakini adanya "yang maujud" di luar yang ditangkap panca indera, karena ada dalil yang menunjukkan adanya… Iman kepada yang ghaib adalah pintu gerbang pertama yang harus dilewati manusia untuk meningkatkan dirinya dari taraf binatang yang hanya menangkap sesuatu dengan panca indera, menanjak naik ke taraf manusia yang dapat memahami bahwa maujud ini jauh lebih besar dari yang ditanggapi panca indera, termasuk ciptaan manusia yang tak lebih dari pancaindera yang diperluas.

Hal ini akan melahirkan pengaruh yang sangat dalam kepada manusia dalam memahami hakikat wujud secara menyeluruh, termasuk memahami dirinya sendiri… merasakan bahwa alam ini tidak hanya alam fisik, tetapi di balik itu ada metafisik. Bahwa di balik yang kasat mata, ada kekuatan yang lebih besar dari alam dan mengatur segalanya… Dialah Allah SWT.

Hati yang dipenuhi keyakinan begini senantiasa bertaqarrub kepada Allah dan berubudiyah kepadaNya juga.

Selanjutnya ciri-ciri orang yang bertaqwa:

وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ
yang mendirikan shalat

Shalat menurut bahasa Arab berarti; do'a. Menurut istilah syara' adalah ibadat yang sudah dikenal, dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam.

Mendirikan shalat yakni; menunaikannya dengan teratur, melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik lahir maupun bathin, seperti khusu', memperhatikan yang dibaca dan lain sebagainya.

Bila kita mempelajari lebih mendalam sistem keagaan Islam, maka kita akan memahami bahwa fungsi shalat antara lain adalah sebagai media penghubung antara hamba dengan Khaliqnya…

Mereka yang hatinya penuh taqwa akan terjauh dari penghambaan diri kepada manusia atau kepada benda, dan hanya menghambakan dirinya kepada Allah Pemilik Kekuatan Mutlak tanpa batas. Lalu, menginsafi bahwa tujuan hidupnya bukanlah untuk membenamkan diri dalam kehidupan duniawi dan segala manifestasi-nya.

Hubungan yang erat dengan Allah SWT menimbulkan kesadaran bahwa segala rezeki yang diterima adalah karunia Allah SWT sebagai penunjang pengabdian kepadaNya; dalam arti yang seluas-luasnya.

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)
dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,(3)

Rezeki: segala yang dapat diambil manfa'at-nya… dan orang yang bertaqwa menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, sesuai dengan pengarahan Al-Quran.

Kemudian, tentang lanjutan ciri orang bertaqwa:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.(4)

Mereka yang bertaqwa yang hatinya bersemi dengan siraman Al-Quran adalah bagian dari kafilah mukmin sepanjang sejarah, selalu memantapkan diri dalam pengabdian yang tulus kepada Ilahi. Mereka menyadari bahwa tanpa petunjuk Ilahi, maka manusia tidak akan pernah mampu memahami hakikat hidup sebenarnya. Petunjuk yang berupa wahyu itu diturunkan Allah kepada manusia melalui perantaraan para nabi dan rasul… dan, sebelum Allah menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW maka Allah telah menurunkan KitabNya yang lain kepada nabi dan rasul terdahulu; semuanya bertujuan untuk membimbing manusia menempuh jalan yang benar, dan agar jangan terjerumus ke lembah kesesatan dan kenistaan.

Tetapi apa yang terjadi?

Kitab-kitab terdahulu seperti Taurat dan Injil, telah dinodai tangan-tangan jahil…

Berbeda dengan Al-Quran ini, dimana prinsif-prinsif yang terdapat pada wahyu terdahulu telah terangkum di dalamnya, telah dijamin Allah penjagaannya. Itulah yang ditegaskan Allah di dalam surat Al-Hijir ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS.Al-Hijr: 9)

Pada ayat yang ke-5 surat Al-Baqarah ini, datanglah ketetapan Allah SWT:

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.(5)

Mana lagi petunjuk yang lebih lurus dan lebih benar dari petunjuk Allah?

Jadi dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam menempuh liku-liku kehidupan ini, dan bersifat dengan sifat orang-orang yang bertaqwa, adalah sebagai kunci penentuan nasib peruntungan kita…

Saturday, 23 September 2017

Makna Kalimah Tauhid : Laa Ilaaha Ilallah




Pernyataan “Laa ilaaha illa-Allah” merupakan penerimaan dan janji seseorang untuk mengabdikan diri kepada Allah semata dengan menjadikan Islam sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan dan satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk mengabdi kepada-Nya serta membebaskan semua ketergantungan kecuali hanya pada Allah.

Konsekuensi Laa Ilallah dapat dikelompokan menjadi 3 Tauhid yaitu :
  1. Tauhid Rububiyah dengan makna :
    LaaKhaalika illallah,
    Laa hafidza illaah
    Laa Mudabbira ilallah
    LaaRaazika illallah
  2. Tauhid Uluhiyah dengan makna :
    LaaMa’buda illallah
    LaaGhoyatu illallah,
    LaaWaaliya illallah
  3. Tauhid Mulkiyyah dengan makna
    LaaMaalika illallah,
    LaaMulka illallah
    LaaHaakima illallah

1. Tauhid Rububiyyah

Makna Laa Khaaliqa Ilallah
Qs 2:21 : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa”
Qs 51:56 : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”
Qs 7:54 “…mencipta dan memerintah hanyalah hak Allah.
Manusia  ‘berislam’ kepada Allah sebagaimana mengadakan ‘kontrak perjanjian tauhid’ (QS 7:172 ; 30:30).
Bukti bahwa sebenarnya Manusia ‘Islam” adalah bahwa kebanyakan manusia akan menjawab ‘Allah’ jika ditanya “Siapakah pencipta langit dan bumi”? (QS 10:31).
Seluruh manusia mengakui bahwa jagat raya ini ada penciptanya dan bahwa di luar kekuatan mahluk terdapat kekuatan supranatural yang maha hebat yang menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan dan kebesaran Allah
(QS 2:164 ; 3:190-191 ; 30:20-27 ; dsb.)

Banyak manusia yang berfikir tentang bagaimana kejadian alam semesta ini sehingga menghasilkan berbagai teori  bigbang, evolusi dll. Namun apapun hasil pemikiran mansuia tersebut, mereka sebenarnya hanya menduga-duga saja. Dugaan mereka bisa benar, bisa salah. Yang jelas benar adalah bahwa proses kejadian alam semesta maupun proses-proses yang ada di alam semesta itu sendiri merupakan ciptaan Allah Ta’ala, mungkin melalui teori bigbang, hukum positif materi, evolusi, dialektika sejarah, atau beratus beribu bahkan berjuta kemungkinan yang lain.
(QS 45:22-26).

QS 22:5 ; 10:3–6 ; 16:65-72 ; 24:41-45 ; 25:45-54
Yang memiliki kemampuan mencipta hanya Allah, taksatupun mahkluk diberi wewenang untuk mencipta. Yang bisa dilakukan makhluq hanya mengutak-atik yang telah ada, melakukan assembling. Kiranya suatu saat manusia dapat membuat makhluk hidup dengan mencampur berbagai bahan kimia, itupun hanya assembling, membuat dari yang ada. Hanya memberikan kondisi supaya terjadi kehidupan, sama halnya dengan manusia dapat memberikan kondisi kepada kematian.

Makna Laa Haafidha Illa LLah.
 
Allah sebagai Satu-satunya Penjaga alam semesta beserta isinya, baik mulai yang lalu, sekarang, maupun sampai nanti di hari akhir. Allah SWT menciptakan suatu mekanisme untuk menjaga alam dan isinya agar senantiasa harmonis, misalnya mekanisme makrokosmos. Bumi, bulan, matahari, dan berjuta bahkan bermilyard ‘matahari’ yang lain (bintang-bintang) mempunyai garis edar, kecepatan edar, dan berat masing-masing.  ‘Benda-benda besar’ itu bergerak mengikuti konfigurasi tertentu sehingga tidak saling bertubrukan

(QS 10:5 ; 36:38-40 ;dsb).
Allah juga menjaga pertumbuhan embrio dalam rahim ibu (QS 22:5 dsb).
Allah juga menjaga terhadap kemurnian al-Quran, sehingga banyak orang yang bisa mendalami dan menghafalkan kitab suci tersebut. 

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran”? (QS 54:17,22,32,40).
“Dan sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran dan Kamilah yang menjaganya” (QS:15:9).

Makna Laa Mudabbira Illallah
Tiada pengatur di alam semesta ini kecuali Allah SWT semata, maknanya Allah sebagai pembuat tunggal aturan-aturan kehidupan, baik dalam kehidupan natural, sosial, maupun kultural. Dalam kehidupan misalnya, Allah sebagai Mudabbir (Pengatur) dinamika jagat raya yang, sebagaimana Muslim dan non-Muslim ketahui, begitu harmonisnya tanpa cacat. Bermilyard-milyad bintang bergerak tanpa bersentuhan satu dengan lainnya. Begitu luasnya dimensi ruang alam sehingga sinar suatu bintang yang terangnya berpuluh bahkan beratus kali sinar matahari hanya berkelap-kelip. Gerakan rotasi maupun revolusi matahari dan bumi yang begitu rapi tetap menghasilkan 24 jam sehari. Sinar panas mentari yang diterima laut sehingga uapnya dibawa angin ke atas lalu berwujud awan berubah menjadi air hujan dingin yang jatuh ke bawah sehingga menumbuhkan tanaman lalu manusia bisa makan nasi, roti, buah-buahan, dsb. dan minum teh, kopi, coklat, dsb.
“Dia (Allah) mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS as-Sajdh 32:5).
Gejala alam semesta tersebut di atas begitu harmonis tanpa problem, karena memang tidak ada sekutu bagi Allah dalam mengatur kehidupan natural.
Sebaliknya, kehidupan sosial dan kultural manusia saat ini telah rusak, sakit, dan penuh dengan problems. Quran menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut karena ulah tangan manusia (QS ar-Ruum 30:41). Lihatlah pembunuhan, perang, korupsi, perampokan, prostitusi, penipuan, monopoli, perjudian, permabukan, dsb-dsb. Mengapa demikian ?!  Tangan-tangan kotor manusia telah merusak dunia, yaitu dengan mengangkat “tuhan-tuhan yang baru” (sesama manusia, nafsu, otak, harta, isme, boss, teknologi, jabatan, uang, dsb-dsb) sebagai pengatur kehidupan sosial dan kulturalnya. Aturan hidup dari Tuhan yang sebenarnya (Allah), yaitu Diinul-Islam, dicampakkan begitu saja, diabaikan, atau disesuaikan dengan “tuhan-tuhan baru”-nya.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? …”(QS al-Jatsiyah 45:23).
“Katakanlah: mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi madharat kepadamu dan tidak pula memberi manfaat ? …”(QS al-Maidah 5:76)
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa…”(QS al-Anbiyaa 21:22).
Makna “Laa Raazaqa Ilallah”
Qs 2:22 “Dialah yang menjadikan bumi sebagi hamparan bagimu dan langit  sebagai atap, dan dia menurunkan air(hujan) dari langit, lalu Dia  menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki  untukmu …”

Qs 17:30-31 : “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia       kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui  lagi Maha Melihat akan hamba-hambNya. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karean takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.       Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
Allah sebagai Raazaq artinya Allah sebagai pemberi rejeki kepada seluruh mahluk di alam semesta. Pada hakekatnya semua rejeki yang dinikmati mausia berasal dari Allah. Allah sajalah yang menjadikan otot-otot manusia berfungsi sehingga dapat bergerak untuk mencari uang atau harta benda. Allah sajalah yang menjadika otak manusia bekerja sehingga dapat berpikir  untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah sajalah yang menciptakan alam semesta beserta isinya sehingga manusia dapat makan nasi, minum air, bernafas udara, bermandi sinar matahari, meikmati pemandangan alam yang indah, dsb.
Rejeki adalah ‘nikmat’, yaitu segala sesuatu yang enak yang dicari dan dibutuhkan manusia seperti uang, harta benda, ilmu, kesempatan, kesehatan, kemampuan, jabatan, dan sebagainya. Rejeki (nikmat) yang paling berharga, dari seluruh rejeki di dunia ini, adalah petunjuk (Huda) dari Allah untuk hidup dalam Iman dan Islam.
 “Maka nikmat Tuhanmu yag manakah yang kamu dustakan ?” (“Fabiayyi aalaaai rabbikumaa tukadzdzibaan”), demikian sindiran Allah yang diulang sampai 31 kali dalam surat ar-Rahmaan. “Jika kamu menghitung nikmat Allah maka kamu tidak akan mampu” (“Wain ta’udduu ni’matallaahi laa tuhsuuhaa”), demikian firman Allah dalam ayat lain.
Kewajiban manusia adalah bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan, yaitu dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Dengan kata lain, sebagai ‘abdullah’ manusia mengabdi (memperhambakan diri) hanya kepada Allah dan sebagai ‘khalifatullah’ manusia mengelola dan memanfaatkan alam semesta beserta isinya menurut aturan-aturan Sang Pencipta (Allah SWT). 
“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'” (QS Ibrahim 14:7).
“Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu dari segala keperluan yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah” (QS Ibrahim 14:34).
Katakanlah,’Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rejeki yang sebaik-baiknya” (QS Saba’ 34:39).

Allah jamin rizki tiap-tiap mahluknya, siapa takut tidak dapat rizki, rizkinya akan sempit. Kita samasekali tidak boleh khawatir terhadap rizki yang diberikan Allah, tetapi kita tidak boleh berpangku tangan, diam menungguh hujan rizki dari langit, kita harus/diwajibkan berusaha, ikhtiar untuk mendapatkannya.
Salah satu rizki yang jarang diperhitungkan manusia adalah oksigen. Pernahkah kita merenung rizki oksegen yang kita hirup setiap saat?  bagaimana kalau penggunaan oksigen di charge? Coba anda hitung kita butuhkan oksigen kita 24 jam, lalu harga oksigen, kemudian hitung berapa uang yang harus dikeluarkan kalau oksigen kita beli       setiap bulan? Tidakkah ikwan berpikir betapa rizki Allah diberikan tanpa menghitung-hitung. Coba renungkan lagi, renungkan dan renungkan.
Kecenderungan ketakutan untuk tidak memperoleh rizki ini kiranya  banyak melanda kita, kita ragu-ragu bahkan mau-maunya manusia mencari yang tidak halal, termasuk korupsi yang sedang hangat  didiskusikan. Kini orang takut pula punya anak lebih dari dua,  takut rizkinya sempit, padalah Allah menjamin anak-anak itu       lihat ayat diatas, tapi kita RAGU terhadap jaminan Allah ini,  keraguan ini menunjukkan pengertian kita terhadap aqidah masih lemah. Apakah ikhwan RAGU terhadap jaminan ALLAH ? renungkanlah,        lalu jika tidak saya ucapkan selamat, iman ikhwan telah tegar, bila jawabnya iya, berushalah meningkatkan iman, yakinlah kepada Allah sepenuh jiwa, hilangkan semua keraguan. Ingat iblis dan   pasukannya menghancurkan pertahanan iman dari keraguan.



2. Tauhid Uluhiyyah

Makna “Laa Waliya Ilallah”
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui” (QS al-Ankabuut 29:41).
Mereka memproklamirkan “tuhan-tuhan yang baru” sebagai pelindung kehidupan yang kekuatan sebenarnya seperti sarang laba-laba – lemah dan suatu saat akan hancur. Realitas sejarah telah berbicara; “tuhan komunisme” telah tumbang, sesudah dijadikan pelindung puluhan (mungkin) ratusan juta orang selama kurang lebih setengah abad; “tuhan jabatan” tidak akan melindungi lagi setelah pensiun; “tuhan teknologi” (senjata, televisi, video, dsb) tidak jarang menimbulkan kerusakan-kerusakan. Semua “tuhan-tuhan baru” ciptaan manusia akan binasa dan hancur, setelah Tuhan yang sebenarnya (Allah Rabbul-‘izzati) memerintahkan malaikat Isrofil untuk meniup terompet sangkakala, pertanda kehidupan dunia mulai berganti dengan Hari Akhir.
Bagi orang-orang yang beriman, pelindung kehidupannya adalah Pelindung Perkasa – Allah Azza wa Jalla. Rasulullaah SAW dan sesama orang yang beriman juga menjadi pelindungnya, untuk tetap mempertuhankan Allah semata.
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” (QS Yunus 10:62-63)
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah (QS al-Maidah 5:55). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan …”(QS at-Taubah 9:23)
Makna Laa Ghaayah ilallah
Allah sebagai Ghaayah artinya Allah sebagai tujuan hidup.   Sadar atau tidak, dipahami atau tidak, beriman atau tidak, semua manusia sedang berjalan terus, dari detik-menit-jam-hari-bulan-tahun ke seterusnya, menuju ke keharibaan Allah yang Agung. Dengan kata lain, seluruh manusia akan pasti mati dan kemudian mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya ketika di dunia. Semua manusia meyakini realitas kematian tetapi tidak semuanya beriman kepada hari akhir. “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu. Maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS al-Insyiqaaq 84:6).
Makna yang lain adalah bahwa semua aktifitas kehidupan manusia hendaklah diorientasikan kepada Allah, menuju Mardhatillaah. Alam semesta beserta isinya telah diciptakan dan diberikan kepada manusia dengan gratis; Allah hanya menganjurkan manusia, tidak memaksanya (baca QS 2:256 ; 18:29), untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah. Semuanya milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah (“Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”). Dan kepada Allah-lah dikembalikan semua urusan (“Wailallaahi turja’ul umuur”).
Konsekuensi dari pengertian ini adalah bahwa semua aktifitas kehidupan manusia dilakukan dengan niat utama ibadah kepada Allah, yang tentunya menurut aturan Allah. Makan, minum, tidur, belajar, bekerja, berolahraga, shalat, puasa, dsb-dsb., harus ditujukan pada titik akhir, yaitu ridha Allah. Jika manusia memenuhi kewajibannya untuk beribadah kepada Allah, maka Allah pasti akan memberikan hak kepada manusia untuk memperoleh kenikmatan di dunia dan akhirat. Bahkan kepada orang yang ingkar (kafir) pun, Allah memberikan nikmat (tetapi di dunia saja).
Seseorang yang belajar harus diniatkan untuk mengabdi kepada Allah sebagai niat utama. Niat untuk mencari ilmu dan agar kelak mendapatkan pekerjaan tidaklah niat yang salah, tetapi niatan itu harus di bawah niat utama. Sebagai orang yang beriman, segala sesuatunya harus dapat dikembalikan kepada Allah; Jaringan relasi antara mukmin dan Allah tidak harus putus, tetapi senantiasa harus dijalin terus-menerus dalam segala aspek kehidupan, sebagai bukti dari keimanannya itu.
Qs. 94:8 ” Dan hanya kepada Allalah hendaknya kamu berharap (menempatkan tujuan).”
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia dan bertaqwalah kepada-Nya, dan sekali-kali Tuhanmu tidak lali dari apa yang kamu kerjakan” (QS Huud 11:123)
Laa Mahbuuba illa laah

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binaang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS al-‘Imran 3:14).
Cinta yang paling utama bagi seorang mukmin adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan perjuangan di jalan-Nya. Walaupun demikian, mayoritas manusia yang hidup di dunia saat ini ‘tidak beriman’; Mereka mengabaikan cinta yang utama tersebut. Cinta kepada harta, uang, jabatan, anak maupun istri (suami) – yang berlebihan – mengalahkan cinta yang utama tersebut. Materialisme dan kapitalisme telah membelengu manusia yang ingin mengabdikan diri kepada ‘Tuhan yang sebenarnya’ (Allah Rabbul-‘aalamiin). Dua paham (isme) tersebut telah menjadi ideologi, menjadi ‘tuhan-tuhan yang baru’. Dunia telah menjadi obyek cinta yang berebih-lebihan. Padahal, Allah Mahbuub – yang berhak diutamakan dalam cinta.
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah         mendatangkan keputusannya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-oang fasik” (QS at-Taubah 9:24)
Seseorang yang mencintai sesuatu senantiasa berusaha untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan apa yang dicinanya. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus dijalin dengan terus-menerus, seperti diwujudkan dengan shalata, membaca al-Quran, mengkaji hadits-hadits, beramal sholeh, dsb. Ketaatan kepada Alah dan Rasul-Nya adalah bukti cinta orang-orang yang beriman. Cinta dunia harus dapat diorientasikan kepada cinta Allah dan Rsul-Nya, agar kecintaan kepada dunia dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya, tidak berlebihan-lebihan. Dengan kata lain, cinta dunia untuk mencari ‘mardhatillah’
Makna Laa Ma’buuda Ilallah
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan  itu segala buah-buahan sebagai rejeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS al-Baqarah 2:21-22)
Manusia diperintahkan untuk menyembah (mengabdikan diri) hanya kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang pantas menjadi sesembahan (Ma’buud).   Allah sebagai sesembahan adalah konsekuensi tertinggi dari syahadat-tauhid (‘Laailaaha illallaah’). Seseorang yang telah bersyahadat-tauhid berarti dia telah memproklamirkan dan berjanji untuk mengabdikan dirinya kepada Allah semata, artinya tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun. Dia telah menyatakan dirinya Muslim (orang yang tunduk-patuh kepada Allah sehingga selamat di dunia dan akhirat). Konsekuensinya, hidupnya untuk taat kepada Allah dan matinya diridloi Allah.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’. Tiada sekutubagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah (Muslim)” (QS al-An’aam 6:162-163)
Namun ternyata kebanyakan  mempertuhankan sesama manusia, harta benda, kekuatan alam, maupun nafsu pribadinya. Isa al-Masih yang manusia biasa tu dijadikan sebagai tuhan. Materialisme telah menjadi ideologi yang menggeser aspek ketuhanan. Kekuatan alam, bukan Sang Penciptanya, dianggap sebagai pengatur kehidupan. Nafsu pribadi telah menggusur aturan-aturan Allah untuk memenuhi kebutuhan duniawi.

3. Allah sebagai pemilik (Al-Malik)

 Allah-lah yang memiliki langit dan bumi dan segala diantara keduanya.  Al-Malik berarti juga rajadiraja. Kerajaan Allah meliputi langit dan bumi. Simak Firman Allah Qs 3:26-27.“Katakallah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hdup. Dan Engkau beri rizki yang Engkau kehendaki tanpa hisab.” (27)
Kedua ayat diatas menunjukkan Maha Kuasa Allah pemilik kerajaan,  Dia dapat berbuat apa saja yang dia kehendaki, berkuasa mutlak.   jadi pada perinsipnya semuanya ini milik Allah, harta yang kita  miliki pada hakekatnya adalah milik Allah yang dipinjamkan/amanat kepada kita, kelak akan  ditanyai amanat itu.
Karena Allah Raja-diraja maka Allah berkuasa mutlak, semua     kejadian di alam yang fana ini atas izin Allah. Mu’jizat para     nabi dan rasul, yang seolah-olah bertentangan dengan sunnatullah      (kalau dilihat dari kacamata sunatullah yang kita kenal)      terjadi karena izin Allah. Semua makhluk adalah hambanya.      Manusia adalah hambanya yang paling mulia sekaligus paling      bandel. Alangkah sombongnya manusia itu, sudah dikarunia      kemulyaan eh menentang, petantang-petenteng, sombong, patutlah      dia di tindak tegas oleh Allah. Tetapi Ada golongan manusia      yang sangat mulia disisi Allah, dialah orang-orang yang bertaqwa.
 Allah berkuasa memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan berkuasa pula mencabut kekuasaan dari siapa      yang dia kehendaki. Allah berkuasa memuliakan siapa yang dia      kehendaki, begitu pula menghinakannya. Berlindung pada Raja      diraja (Allah) dengan kekuasaannya.  
Allah sebagai pelindung (Al-Waliy)
Allahlah pelindung dan penolong mahlukNya, mintalah  perlindungan kepada Allah, niscaya Allah akan melindungi.
Qs 2:257  ” Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.”
Perhatikan bagaimana Allah melindungi sang bayi yang tidak memilik kekuatan apa-apa dengan kasih sayang dari orang tuanya? 
Allah sebagai Hakam (yang membuat hukum)
Pengakuan Allah sebagi pembuat hukum harus diakui secara i’tiqadi. Allahlah yang berhak membuat hukum, hukum-hukum yang kita ikuti harus diturunkan dari hukum Allah sekali tidak diperkenankan menentang hukum Allah. Konsekuensi orang yang berhukum selain hukum Allah sangat berat.
Qs 5:44-50 : “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  kafir.” (44)
 “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  zalim.” (45)
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang  diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  fasik .” (47)

Monday, 18 September 2017

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta’in waala umuriddunya waddin wassalatu wassalamu ala asrofil ambiya’i wal mursalin waala alihi wasohbihi ajma’in ama ba’du
Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmatnya yang telah diberikan kepada kita semua. Nikmat sehat, nikmat taufik hidayah inayah, dan nikmat yang paling besar adalah nikmat Iman & Islam. Shalawat serta salam tak lupa kita sanjungkan keharibaan nabi besar Muhammad SAW

Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang “sabar”. Sabar berasal dari kata “sobaro-yasbiru” yang artinya menahan. Menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari perbuatan dosa. Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba, karena dengan kesabaran sesorang akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.

Sabar merupakan ajaran yang banyak sekali disinggung dalam Al-Qur’an maupun hadis, sehingga manusia senantiasa diarahkan untuk selalu bersabar dalan kehidupannya. Kesabaran yang sebenarnya adalah kemampuan dalam mengendalikan sikap, sehingga bisa dengan ikhlas dan rela hati menerima kondisi yang sedang dihadapinya demi mendapat balasan yang baik di akhirat.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah:153
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan kepada orang-orang yang beriman bahwa Allah akan selalu beserta mereka yang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Allah juga menjanjikan kedudukan yang tinggi (di surga) bagi hamba-hambanya yang bersabar. Seperti firman Allah dalam QS Al-Furqaan:75
“Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.

Demikian saya akhiri, kurang lebihnya mohon maaf. Kesempurnaan milik Allah, kesalahan milik saya. Wabilahi taufik wal hidayah, wa ridho wal inayah, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh